
Permasalahan tentang apakah benar Nabi Muhammad tidak bisa baca tulis, hingga saat ini masih menjadi polemik di antara umat Islam. Menurut mayoritas Muslim, bahwa Nabi Muhammad adalah seorang ummi, yang tidak bisa membaca dan menulis. Untuk membenarkan anggapannya itu, mereka mengutarakan beberapa dalil mengenai bukti bahwa Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis. Lalu sejauh manakah kerapuhan dalil tersebut? Mari kita bahas bersama.
1.
Mendapatkan Wahyu Pertama Ke Gua Hira
Dalam hadis shahih Bukhari, diungkapkan
diantaranya sebagai berikut: "Permulaan wahyu yang datang kepada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dengan mimpi yang benar dalam
tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh.
Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau memilih gua
Hiro dan bertahannuts yaitu 'ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya
sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk
bertahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal.
Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hiro, Malaikat datang seraya
berkata: "Bacalah?" Beliau menjawab: "Aku tidak bisa baca."
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku
dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi:
"Bacalah!" Beliau menjawab: "Aku tidak bisa baca." Maka
Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan
berkata lagi: "Bacalah!" Beliau menjawab: "Aku tidak bisa
baca." Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya
dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah)."1
Pada hadis di atas, ketika Allah mengutus
Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad, tentunya Allah
sudah mengetahui terlebih dahulu kapasitas Nabi Muhammad, apakah beliau bisa
membaca ataukah tidak. Jika Nabi tidak bisa membaca, lalu mengapa Malaikat Jibril
menyuruhnya untuk membaca (iqra)?
Bagi pihak yang pro bahwa Nabi Muhammad bisa
membaca, mereka berpendapat, bahwa di hadapan Nabi, Malaikat Jibril telah membawa
secarik kertas yang berisi tulisan. Menurut logika mereka, menyuruh sesuatu
berarti yang disuruh bisa melakukan sesuatu, terlebih yang menyuruhnya adalah
Allah melalui Malaikat Jibril, dimana Allah Maha Mengetahui. Namun bagi kami, dalil
harus didahulukan daripada akal. Karena jika akal diterapkan terlebih dahulu,
sudah barang tentu agar kaki lebih bersih saat berwudhu, Nabi akan melepaskan
kedua sepatunya ketika sedang berwudhu menggunakan air. Namun nyatanya, beliau
tidak melepaskan dan bahkan mengusap sepatunya.2
Dan sepanjang yang kami ketahui, ketika Malaikat Jibril menyampaikan wahyu
kepada beliau (dari awal sampai akhir), tidak ada satu dalil pun yang
menyatakan, bahwa Malaikat Jibril pernah membawa secarik kertas yang berisi
tulisan dalam menyampaikan wahyu dari Allah kepada beliau. Namun di sisi lain, hadis
di atas justru dijadikan dalil oleh pihak yang meyakini, bahwa Nabi Muhammad adalah seorang ummi, dimana makna ummi disana adalah buta huruf.
Lalu bagaimana mengkompromikan dua pendapat di
atas? Tentunya, maksud Malaikat Jibril pada hadis di atas yaitu Jibril mengharapkan
agar beliau mengikuti dan menghafal atas wahyu yang diterima oleh Malaikat
Jibril. Namun, karena beliau kaget dan pertama kali bertemu, maka akhirnya
beliau menjawab: “aku tidak bisa baca”. Padahal, ada wahyu yang belum beres disampaikan
oleh Jibril yang belum diketahui oleh beliau. Tapi seketika, Nabi malah
menjawab suruhan baca itu (iqra). Oleh karena itulah, maka akhirnya tubuh beliau
pun didekap erat oleh Jibril. Dan suatu hal yang wajar atas apa yang dilakukan
oleh Nabi, karena keduanya baru bertemu pertama kali.
Mungkin ada yang berdalih, kenapa Malaikat
Jibril sebelum menyampaikan wahyu dari ayat pertama di surat Al-Alaq tidak menyampaikan
terlebih dahulu ke Nabi dengan kalimat: “hai Muhammad, dengarkan dan ikutilah
wahyu Allah yang akan ku ucapkan ini. Dan jangan dulu kamu menyelanya” Tentu
saja, kalimat seperti itu atau kalimat sejenisnya, Malaikat Jibril bisa
dianggap telah menambahkan Firman Allah. Jadi terkait hadis di atas, bahwa
hadis itu tidak bisa dijadikan sebagai dalil, bahwa Nabi Muhammad bisa membaca
dan tidak bisa pula dijadikan dalil lain, bahwa Nabi Muhammad tidak bisa
baca-tulis.
Makna
Ummi Di Dalam Al-Qur’an
Ada
dua ayat di dalam Al-Qur'an, yang di dalam kata ummi, yaitu Surat Al-Anfal ayat
57 dan Al-Jumuah ayat 2. Selain kedua ayat itu, ada pula ayat lain yaitu Surat
Al-Ankabut ayat 48, dimana di dalamnya dianggap telah mengindikasikan bahwa
Nabi Muhammad seorang ummi, tidak bisa membaca dan menulis. Perlu diketahui,
bahwa kata ummi tidak bermakna Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis.
Karena kata ummi di kalangan para ulama telah memiliki perbedaan dalam
penafsirannya.3 Pertama, ummi
yakni orang-orang Arab, baik yang bisa membaca dan menulis, maupun yang tidak. Kedua,
ummi artinya orang yang tidak dapat menulis dan membaca kitab. Ketiga, bukan
kaum terpelajar dan bukan kaum yang mempunyai sejarah peradaban yang tinggi. Meski
mereka tidak pandai membaca dan menulis, namun ingatan mereka kuat.
Dari
adanya penjelasan di atas, khususnya mengenai Nabi Muhammad tidak bisa membaca
dan menulis, ternyata begitu rapuh dalil-dalilnya. Dan bagi kami, ada lain yang
menandaskan, bahwa Nabi Muhammad bisa membaca dan menulis. Apa saja dalilnya? Insya
Allah akan kami utarakan di lain waktu.
Sumber:
1.
https://hadits.tazkia.ac.id/hadits/1:3
Di akses pada Tanggal 19 Desember 2024.
2. https://hadits.tazkia.ac.id/hadits/1:5352
Di akses pada Tanggal 19 Desember 2024.
3. https://tanwir.id/menyingkap-makna-dibalik-kata-ummi-dalam-qs-surah-al-jumuah-2/ Di akses pada Tanggal 19 Desember 2024.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar