
Kristen meyakini, bahwa pengarang kitab Injil Matius adalah muridnya Yesus, dimana penulis kitab Injil Matius bernama Matius atau Lewi. Namun siapakah sebenarnya penulis kitab Injil Matius ini? Apakah benar yang ia adalah muridnya Yesus yang bernama Matius? Dari manakah informasi, bahwa pengarang kitab Injil Matius adalah muridnya Yesus? Kapan kitab Injil Matius ditulis? Semuanya akan kami ulas disini.
Benarkah Nama Matius Penulis Injil Matius?
Menurut
Kristen, di dalam kitab Kisah Para Rasul (KPR) 1:13, nama Matius telah
tercantum, dimana ia diyakini sebagai salah satu dari nama muridnya Yesus Kristus (salah satu dari dua belas Rasul). Untuk melengkapi informasi tentang
Matius tersebut, umat Kristiani menyatakan, bahwa profesi Matius adalah
seseorang pemungut cukai (Matius 9:9-13). Bagi mereka, penulis Injil Matius
yang bernama Matius, tercantum pula di dalam kitab Lukas 6:15; Matius 10:3; dan Markus 3:18. Tidak hanya itu, menurut Kristen, bahwa nama asli Matius adalah
Lewi yang menjadi anaknya Alfeus (Markus 2:13; Lukas 5:27-29).
Mengenai
kepengarangan Injil Matius, argumentasi di atas kerap kali disampaikan oleh umat
Kristen. Namun nyatanya, seorang guru besar teologi Perjanjian Baru (PB) dari
Universitas Munster/Westphalia, Jerman, yaitu Willi Marxsen, telah menyangkal
keyakinan Kristen tersebut dengan memberikan penjelasannya sebagai berikut: “Si pengarang tetap tidak kita kenal sama
sekali. Adanya nama pemungut cukai (dalam Matius 9:9) yang dipanggil sebagai
murid Matius dan bukan Lewi seperti dalam Markus 2:14, bukanlah suatu petunjuk
yang terselubung dari si pengarang. Melainkan berhubungan dengan kenyataan
bahwa dalam daftar para murid dalam 10:2 dyb. Tidak ada nama Lewi.”1 Senada dengan yang disampaikan oleh Willi
Marxsen, seorang Dekan Fakultas dan Guru Besar Alkitab dan Teologi di Perguruan
Tinggi Wheaton, Illinois, Merrill C. Tenney, menyatakan, “Tidak ada yang diketahui mengenai dia (Matius), selain nama dan
pekerjaannya. Bahwa tidak pernah dalam Injil pertama ia disebut secara
terang-terangan sebagai penulisnya. Tetapi para penulis gereja yang pertama
yang membahas kepenulisan Inji menetapkan Injil Pertama ini sebagai hasil karya
Matius.”2
Adanya
penjelasan dari kedua guru besar tersebut, maka kita bisa mengetahui, bahwa
klaim Kristen selama ini yang menyatakan bahwa penulis Injil Matius adalah
muridnya Yesus yang memiliki nama lain, yaitu Lewi, dimana ia berprofesi
sebagai pemungut cukai, ternyata sangat lemah sekali argumentasinya. Dan dari
informasi Merril C. Tenney di atas, kita pun telah mengetahui, bahwa di
kalangan penulis Bapa Gereja telah menetapkan, bahwa penulis pertama kitab ini
adalah karyanya Matius.
Siapakah Yang Menetapkan Bahwa Matius
Adalah Pengarang Injil Matius
Mengenai
Injil Matius, seorang teolog Jerman yang hidup pada abad ke-19 Masehi, David
Friedrich Strauss, menyatakan, “…Untuk
Injil yang pertama, yaitu Injil Matius, kita mendapatkan keterangan dari
seorang penulis sejarah gereja yang bernama Eusebius yang hidup pada zaman
Kaisar Konstantinus (273-337). Eusebius berkata bahwa Papias yang menjadi Uskup
di Hierapolis sekitar tahun 161-180 SM dan yang mendapatkan cerita-cerita dari
Bapa-bapa Gereja yang tertua tentang murid-murid Yesus, mengatakan, Matius
telah menulis amsal-amsal (spruce, perkataan) dari Yesus, dan menerjemahkan
sedikit menurut kesanggupannya...”3
Dari pernyataan Strauss tersebut, kita mendapatkan informasi, bahwa Bapa Gereja
yang bernama Eusebius telah mengutip dari Papias yang menyatakan, bahwa Matius
adalah seorang saksi mata tentang Yesus Kristus.
Namun,
seorang Doktor di bidang teologi, jurusan Kitab Suci di Roma, yaitu Cletus
Groenen, telah menolak dengan keras, bahwa Matius adalah saksi mata Yesus Kristus. Menurutnya, “Dalam Matius tidak
ada bekasnya bahwa penulis menjadi saksi mata (telinga) tentang apa yang
diceritakannya. Sebaliknya, ia menggantungkan diri pada tradisi sebelumnya
(Markus, Q, dll.). Seorang saksi mata pasti tidak berbuat demikian. Ia pun
menuruti sebuah skema yang dibuat-buat saja.”4
Mengenai adanya pandangan bahwa penulis Injil Matius yang isinya mengutip Injil
Markus, John Drane, seorang pengajar di Universitas Stirling, di Skotlandia,
mengungkapkan, “Tidaklah mudah memahami
mengapa salah seorang dari kedua belas murid akan begitu mengandalkan Injil
Markus, yang ditulis oleh seseorang yang bukan saksi dari peristiwa-peristiwa
dalam kehidupan Yesus.”5 Tidak
hanya John Drane yang beranggapan demikian mengenai sumber kepenulisan Injil
Matius, sumber dari Katolik Roma pun memiliki pandangan yang sama. Bahkan,
penulis Injil Matius telah dianggap mencaplok isi dari Injil Markus, dimana hal
itu terbukti dari adanya narasi yang terdapat pada Injil Matius di dalam Pasal
3-4 dan 12-28.6
Mengenai
pengakuan Papias yang menjadi sumber utamanya Eusebius, salah seorang pendeta
yang telah memiliki gelar sebagai Doktor Teologi, yaitu Samuel Benyamin Hakh,
telah memberikan dua alasan penolakan terhadap laporan yang telah disampaikan
oleh Papias tersebut. Pertama,
tidaklah mungkin seorang saksi mata seperti Matius, yang mengalami pelayanan
Yesus, menjadikan tulisan dari Markus, seorang yang bukan saksi mata sebagai
dasar tulisannya. Kedua, perubahan
dari nama dari Lewi dalam Markus 2:14 menjadi Matius dalam Matius 9:9, secara
jelas mencerminan suatu proses penulisan yang bukan berasal dari saksi mata.7
Kapan Injil Matius Ditulis?
Pada
abad pertama Masehi, pengarang Kitab Injil Matius ini tidak dikenal siapa
penulisnya (anonym). Nama penulis kitab ini baru dikenal pada pertengahan abad
kedua Masehi, dimana penulis Injil Matius sebagai kitab karangannya Matius.8 Meskipun demikian, data-data internal maupun
eksternal dalam menunjukkan bahwa kitab ini ditulis oleh seseorang yang bernama
Matius, begitu lemah. Hingga pada akhirnya, kapan kitab Injil Matius ini
ditulis pun hanya menghasilkan berbagai jawaban spekulatif belaka. Sebagai
contoh, misalnya, menurut Merrill C. Tenney, bahwa kitab Injil Matius ini
ditulis sekitar tahun 50 sampai 70 Masehi.9
Sedangkan menurut John Drane, berdasarkan pendapat mayoritas dari para ahli,
bahwa kepenulisan Injil Matius ditulis sekitar tahun 80-100 Masehi.10 Berbeda dengan Merrill dan John Drane, Samuel
Benyamin Hakh, justru berpendapat, bahwa Injil Matius telah ditulis kisaran
80-110 M.11
Kesimpulan
Setelah
kita menelusuri tentang siapakah yang mengarang Injil Matius, ternyata nama
Matius mulai diperkenalkan oleh Papias, dimana pendapat Papias tersebut
digunakan oleh Eusebius. Dan jika kita tahu, bahwa keduanya (Papias dan
Eusebius) tidaklah hidup sezaman, apalagi pernah bertemu muka. Tidak hanya itu,
Papias pun tidak pernah pula hidup sezaman dengan penulis Injil Matius, apalagi
dengan Yesus Kristus. Tentunya, dari adanya kesenjangan generasi tersebut,
pihak Kristiani harus mampu memberikan data dan fakta sejarah, yaitu dari
siapakah Papias mendapatkan informasi, bahwa penulis Injil Matius bernama
Matius, dimana ia diklaim sebagai muridnya Yesus? Dari hasil penelusuran
penulis, tidak ada satu pun Kristen yang bisa memberikan jawaban berdasarkan
data atas apa yang telah kami pertanyakan itu, selain hanya sekedar asumsi yang
bersifat dogmatis belaka. Dan selama pihak Kristiani tidak ada yang mampu
memberikan jawaban atas apa yang kami pertanyakan tersebut, tentunya bisa
dikatakan, lemahnya argumentasi dan keyakinan Kristen selama ini yang meyakini,
bahwa penulis Injil Matius itu adalah Matius yang menjadi muridnya Yesus.
Sumber:
1.Willi
Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis Terhadap
Masalah-Masalahnya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), hal. 183
2. Merrill
C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 2017), hal. 183
3. O.
Hasem, Marxisme: Asal-Usul Ateisme Dan Penolakan Kapitalisme, (Bandung: Nuansa
Cendekia, 2018), hal. 47
4. Dr.
C. Groenen OFM, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius,
2021), hal. 87
5.
John Drane, Memahami Perjanjian Baru: Pengantar Historis-Teologis, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2016), hal. 219
6.
Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (ed.), Tafsir Alkitab Perjanjian
Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 2022), hal. 32
7.
Pdt. Dr. Benyamin Samuel Hakh, Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar dan
Pokok-Pokok Teologisnya, (Bandung: Bina Media Informasi: 2010), hal. 278
8.
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
Kasih, 2016), hal. 37
9.
Merrill C. Tenney, op.cit., hal. 185
10.
John Drane, op.cit., hal. 220
11.
Samuel Benyamin Hakh, op.cit., hal.
280
Tidak ada komentar:
Posting Komentar