2024/12/04

Menelusuri Penulis Injil Matius

Pengarang Kitab Injil Matius

Oleh: Bang Data.

Kristen meyakini, bahwa pengarang kitab Injil Matius adalah muridnya Yesus, dimana penulis kitab Injil Matius bernama Matius atau Lewi. Namun siapakah sebenarnya penulis kitab Injil Matius ini? Apakah benar yang ia adalah muridnya Yesus yang bernama Matius? Dari manakah informasi, bahwa pengarang kitab Injil Matius adalah muridnya Yesus? Kapan kitab Injil Matius ditulis? Semuanya akan kami ulas disini.

Benarkah Nama Matius Penulis Injil Matius?

Menurut Kristen, di dalam kitab Kisah Para Rasul (KPR) 1:13, nama Matius telah tercantum, dimana ia diyakini sebagai salah satu dari nama muridnya Yesus Kristus (salah satu dari dua belas Rasul). Untuk melengkapi informasi tentang Matius tersebut, umat Kristiani menyatakan, bahwa profesi Matius adalah seseorang pemungut cukai (Matius 9:9-13). Bagi mereka, penulis Injil Matius yang bernama Matius, tercantum pula di dalam kitab Lukas 6:15; Matius 10:3; dan Markus 3:18. Tidak hanya itu, menurut Kristen, bahwa nama asli Matius adalah Lewi yang menjadi anaknya Alfeus (Markus 2:13; Lukas 5:27-29).

Mengenai kepengarangan Injil Matius, argumentasi di atas kerap kali disampaikan oleh umat Kristen. Namun nyatanya, seorang guru besar teologi Perjanjian Baru (PB) dari Universitas Munster/Westphalia, Jerman, yaitu Willi Marxsen, telah menyangkal keyakinan Kristen tersebut dengan memberikan penjelasannya sebagai berikut: “Si pengarang tetap tidak kita kenal sama sekali. Adanya nama pemungut cukai (dalam Matius 9:9) yang dipanggil sebagai murid Matius dan bukan Lewi seperti dalam Markus 2:14, bukanlah suatu petunjuk yang terselubung dari si pengarang. Melainkan berhubungan dengan kenyataan bahwa dalam daftar para murid dalam 10:2 dyb. Tidak ada nama Lewi.”1 Senada dengan yang disampaikan oleh Willi Marxsen, seorang Dekan Fakultas dan Guru Besar Alkitab dan Teologi di Perguruan Tinggi Wheaton, Illinois, Merrill C. Tenney, menyatakan, “Tidak ada yang diketahui mengenai dia (Matius), selain nama dan pekerjaannya. Bahwa tidak pernah dalam Injil pertama ia disebut secara terang-terangan sebagai penulisnya. Tetapi para penulis gereja yang pertama yang membahas kepenulisan Inji menetapkan Injil Pertama ini sebagai hasil karya Matius.”2

Adanya penjelasan dari kedua guru besar tersebut, maka kita bisa mengetahui, bahwa klaim Kristen selama ini yang menyatakan bahwa penulis Injil Matius adalah muridnya Yesus yang memiliki nama lain, yaitu Lewi, dimana ia berprofesi sebagai pemungut cukai, ternyata sangat lemah sekali argumentasinya. Dan dari informasi Merril C. Tenney di atas, kita pun telah mengetahui, bahwa di kalangan penulis Bapa Gereja telah menetapkan, bahwa penulis pertama kitab ini adalah karyanya Matius.

 

Siapakah Yang Menetapkan Bahwa Matius Adalah Pengarang Injil Matius

Mengenai Injil Matius, seorang teolog Jerman yang hidup pada abad ke-19 Masehi, David Friedrich Strauss, menyatakan, “…Untuk Injil yang pertama, yaitu Injil Matius, kita mendapatkan keterangan dari seorang penulis sejarah gereja yang bernama Eusebius yang hidup pada zaman Kaisar Konstantinus (273-337). Eusebius berkata bahwa Papias yang menjadi Uskup di Hierapolis sekitar tahun 161-180 SM dan yang mendapatkan cerita-cerita dari Bapa-bapa Gereja yang tertua tentang murid-murid Yesus, mengatakan, Matius telah menulis amsal-amsal (spruce, perkataan) dari Yesus, dan menerjemahkan sedikit menurut kesanggupannya...”3 Dari pernyataan Strauss tersebut, kita mendapatkan informasi, bahwa Bapa Gereja yang bernama Eusebius telah mengutip dari Papias yang menyatakan, bahwa Matius adalah seorang saksi mata tentang Yesus Kristus.

Namun, seorang Doktor di bidang teologi, jurusan Kitab Suci di Roma, yaitu Cletus Groenen, telah menolak dengan keras, bahwa Matius adalah saksi mata Yesus Kristus. Menurutnya, “Dalam Matius tidak ada bekasnya bahwa penulis menjadi saksi mata (telinga) tentang apa yang diceritakannya. Sebaliknya, ia menggantungkan diri pada tradisi sebelumnya (Markus, Q, dll.). Seorang saksi mata pasti tidak berbuat demikian. Ia pun menuruti sebuah skema yang dibuat-buat saja.”4 Mengenai adanya pandangan bahwa penulis Injil Matius yang isinya mengutip Injil Markus, John Drane, seorang pengajar di Universitas Stirling, di Skotlandia, mengungkapkan, “Tidaklah mudah memahami mengapa salah seorang dari kedua belas murid akan begitu mengandalkan Injil Markus, yang ditulis oleh seseorang yang bukan saksi dari peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus.”5 Tidak hanya John Drane yang beranggapan demikian mengenai sumber kepenulisan Injil Matius, sumber dari Katolik Roma pun memiliki pandangan yang sama. Bahkan, penulis Injil Matius telah dianggap mencaplok isi dari Injil Markus, dimana hal itu terbukti dari adanya narasi yang terdapat pada Injil Matius di dalam Pasal 3-4 dan 12-28.6

Mengenai pengakuan Papias yang menjadi sumber utamanya Eusebius, salah seorang pendeta yang telah memiliki gelar sebagai Doktor Teologi, yaitu Samuel Benyamin Hakh, telah memberikan dua alasan penolakan terhadap laporan yang telah disampaikan oleh Papias tersebut. Pertama, tidaklah mungkin seorang saksi mata seperti Matius, yang mengalami pelayanan Yesus, menjadikan tulisan dari Markus, seorang yang bukan saksi mata sebagai dasar tulisannya. Kedua, perubahan dari nama dari Lewi dalam Markus 2:14 menjadi Matius dalam Matius 9:9, secara jelas mencerminan suatu proses penulisan yang bukan berasal dari saksi mata.7

 

 Kapan Injil Matius Ditulis?             

Pada abad pertama Masehi, pengarang Kitab Injil Matius ini tidak dikenal siapa penulisnya (anonym). Nama penulis kitab ini baru dikenal pada pertengahan abad kedua Masehi, dimana penulis Injil Matius sebagai kitab karangannya Matius.8 Meskipun demikian, data-data internal maupun eksternal dalam menunjukkan bahwa kitab ini ditulis oleh seseorang yang bernama Matius, begitu lemah. Hingga pada akhirnya, kapan kitab Injil Matius ini ditulis pun hanya menghasilkan berbagai jawaban spekulatif belaka. Sebagai contoh, misalnya, menurut Merrill C. Tenney, bahwa kitab Injil Matius ini ditulis sekitar tahun 50 sampai 70 Masehi.9 Sedangkan menurut John Drane, berdasarkan pendapat mayoritas dari para ahli, bahwa kepenulisan Injil Matius ditulis sekitar tahun 80-100 Masehi.10 Berbeda dengan Merrill dan John Drane, Samuel Benyamin Hakh, justru berpendapat, bahwa Injil Matius telah ditulis kisaran 80-110 M.11

                                                      

Kesimpulan

Setelah kita menelusuri tentang siapakah yang mengarang Injil Matius, ternyata nama Matius mulai diperkenalkan oleh Papias, dimana pendapat Papias tersebut digunakan oleh Eusebius. Dan jika kita tahu, bahwa keduanya (Papias dan Eusebius) tidaklah hidup sezaman, apalagi pernah bertemu muka. Tidak hanya itu, Papias pun tidak pernah pula hidup sezaman dengan penulis Injil Matius, apalagi dengan Yesus Kristus. Tentunya, dari adanya kesenjangan generasi tersebut, pihak Kristiani harus mampu memberikan data dan fakta sejarah, yaitu dari siapakah Papias mendapatkan informasi, bahwa penulis Injil Matius bernama Matius, dimana ia diklaim sebagai muridnya Yesus? Dari hasil penelusuran penulis, tidak ada satu pun Kristen yang bisa memberikan jawaban berdasarkan data atas apa yang telah kami pertanyakan itu, selain hanya sekedar asumsi yang bersifat dogmatis belaka. Dan selama pihak Kristiani tidak ada yang mampu memberikan jawaban atas apa yang kami pertanyakan tersebut, tentunya bisa dikatakan, lemahnya argumentasi dan keyakinan Kristen selama ini yang meyakini, bahwa penulis Injil Matius itu adalah Matius yang menjadi muridnya Yesus.  

 


Sumber:

 

1.Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis Terhadap Masalah-Masalahnya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), hal. 183

2. Merrill C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 2017), hal. 183

3. O. Hasem, Marxisme: Asal-Usul Ateisme Dan Penolakan Kapitalisme, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2018), hal. 47

4. Dr. C. Groenen OFM, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 2021), hal. 87

5. John Drane, Memahami Perjanjian Baru: Pengantar Historis-Teologis, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), hal. 219

6. Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (ed.), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 2022), hal. 32

7. Pdt. Dr. Benyamin Samuel Hakh, Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar dan Pokok-Pokok Teologisnya, (Bandung: Bina Media Informasi: 2010), hal. 278

8. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2016), hal. 37

9. Merrill C. Tenney, op.cit., hal. 185

10. John Drane, op.cit., hal. 220

11. Samuel Benyamin Hakh, op.cit., hal. 280


Tidak ada komentar:

Posting Komentar