
Di artikel kali ini, kami membahas seorang ahli hadis yang sangat terkenal, yaitu Imam Bukhari. Tidak hanya sekedar membahas tentang sejarah biografinya Imam Bukhari secara lengkap dan sederhana. Melainkan, menampakan pula berbagai karyanya Imam Bukhari itu sendiri.
Nasabnya Imam Bukhari
Dia adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail
bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah. Bardizbah yang merupakan leluhur
tertuanya adalah seorang pemeluk Majusi. Namun anaknya yang bernama Al-Mughirah,
memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al-Jafi, seorang Gubernur Bukhara.
Dan ayahnya Bukhari adalah seorang ulama besar ahli hadis, dimana ayahnya itu
belajar hadis-hadisnya dari para ulama Irak. Riwayat hidupnya telah dipaparkan
oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Tsiqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari,
membuat biografinya dalam at-Tarikh al-Kabir. Imam Bukhari dilahirkan di
Bukhara, 13 Syawal 94 Hijriah atau 20 Juli 810 Masehi.1 Ayahnya Bukhari meninggal dunia, ketika ia
masih kecil dan telah meninggalkan banyak harta bagi keluarganya. Hingga
akhirnya, ia pun dirawat dan dididik oleh ibunya.
Kecerdasannya
Imam Bukhari
Kecerdasannya sudah mulai terlihat ketika ia
masih kecil. Di usianya yang sepuluh tahun, ia telah banyak menghafal hadis.
Kemudian di usianya yang ke enam belas, ia sudah menghafal kitab susunan Ibn
Mubarak dan Waki, serta mengetahui pendapat dari para penganut paham rasional,
termasuk dasar-dasar dan mazhabnya. Pada tahun 210 H atau 826 M, ia menunaikan
ibadah haji bersama ibu dan saudaranya. Hingga akhirnya, ia pun tinggal di
Mekah, dimana Mekah kala itu merupakan salah satu pusat ilmu yang penting di
Hijaz. Dan sewaktu-waktu, ia pun pergi ke Madinah. Di kedua kota itulah, akhirnya
ia berhasil menyusun dasar-dasar kitab Al-Jami as-Shahih dan juga
pendahuluannya. Tidak hanya itu, ia pun menulis pula kitab Tarikh Kabir.
Karena kelebihan yang telah Allah berikan
kepada Bukhari, sebagian orang merasa iri dan dengki kepadanya, hingga
meniupkan fitnah kepada Imam Bukhari. Mereka menuduh Bukhari, sebagai orang
yang telah berpendapat, bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Namun demikian, ia bisa
terbebas dari fitnah tersebut ketika menjawab pertanyaan, apakah lafazh yang
ada di dalam Al-Qur’an itu makhluk ataukah bukan. Dari adanya pertanyaan itu,
ia menjawab, bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sedangkan
perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’ah. Di usia 62 tahun
kurang 13 hari, akhirnya Imam Bukhari pun meninggal dunia pada malam Idul Fitri
di tahun 256 H atau 870 M.
Para
Guru dan Muridnya Imam Bukhari
Pengembaraannya ke berbagai negeri telah
mempertemukan Imam Bukhari dengan banyak guru yang berbobot, dimana ia telah
menuliskan banyak hadis yang diterima dari 1.080 guru yang semuanya adalah ahli
hadis. Di antara guru-gurunya adalah Ali ibn Al-Madini, Ahmad bin Hanbal, Yahya
bin Ma’in, Muhammad ibn Yusuf al-Baikandi, dan lain-lain. Tidak hanya memiliki
banyak guru, Imam Bukhari pun memiliki banyak murid. Di antaranya adalah Muslim bin Al-Hajjaj, Tirmidzi, Nasa’I, Ibn Khuzaimah, Ibn Abu Daud, Muhammad bin Yusuf
al-Firabri, Ibrahim bin Ma’qil al-Nasafi, dan lain-lain.
Karyanya
Imam Bukhari
Allah telah memberikan kepadanya anugerah yang
begitu besar, hingga bisa menghafal hadis di luar kepala sebanyak 100.000 hadis
shahih, dan 200.000 hadis yang tidak shahih. Maka tidak mengherankan, jika
beliau mampu menghasilkan banyak karya. Adapun karyanya Imam Bukhari yang paling
masyur adalah:
1.
Al-Jami as-Sahih (Sahih Bukhari)
2.
Al-Adab al-Mufrad
3.
At-Tarikh as-Sagir
4.
At-Tarikh al-Awsat
5.
At-Tarikh al-Kabir
6.
At-Tafsir al-Kabir
7.
Al-Musnad al-Kabir
8.
Kitab al-‘Ilal
9.
Raf’ul Yadain fis-Salah
10.
Biirul Walidain
11.
Kitab al-Asyribah
12.
Al-Qira’ah Khalf al-Imam
13.
Kitab ad-Du’afa
14.
Asami as-Sahabah
15.
Kitab al-Kuna.2
Imam Bukhari adalah orang yang tidak
tertandingi hafalan hadisnya, baik sanad atau matannya, serta mampu membedakan
yang shahih dengan yang tidak. Ketika Imam Bukhari berada di Samarkand, ia
pernah diuji oleh para ahli hadis yang berjumlah 400 orang. Mereka memberikan
hadis kepada Imam Bukhari, namun sanad satu hadis dengan hadis yang lainnya
dicampur. Dan ternyata, beliau berhasil membetulkan hadis tersebut dengan
susunan sanad yang benar. Hingga akhirnya, para ahli hadis pun tidak menemukan sama
sekali kesalahan dalam sanad dan matan hadisnya.3
Sumber:
1.
https://rukyatulhilal.org/konversi/
untuk mengetahui cara mengkoversi dari tahun Masehi ke Hijriah, bisa anda gunakan di website tersebut.
2.
Muhammad Muhammad Abu Syuhbah, Kitab Hadis Shahih Yang Enam, (Bogor: Pustaka
Litera Antar Nusa, 1994), hal. 35-38; 40-41; 45
3.
Muhammad Abu Zahw, The History of Hadith: Historiografi Hadits Nabi Dari Masa
Ke Masa, (Depok: Keira Publishing, 2017), hal. 304
Tidak ada komentar:
Posting Komentar