2024/12/18

Nabi Muhammad Menerima Wahyu Dari Setan?

 

benarkah nabi menerima wahyu dari setan

Oleh: Bang Data.

Ada sebagian umat Kristen yang telah memberikan tudingan/fitnah kepada Nabi Muhammad. Menurut Kristen, bahwa wahyu yang didapatkan oleh Muhammad bukan berasal dari Allah, melainkan dari setan. Mendapatkan wahyu dari setan, menurut mereka, karena Muhammad telah mendapatkan wahyu di dalam gua. Namun benarkah, Nabi Muhammad telah mendapatkan wahyu dari setan? Mari kita bahas.         

Wahyu Dari Setan Bisa Menghasilkan Peradaban?

Sebelum menjadi Nabi, Muhammad selalu mengasingkan diri dan berpikir seorang diri di gua Hira. Hal itu beliau lakukan untuk berpikir tentang alam dan pencipta-Nya, tentang kematian dan sesudah kematian, dan lain-lain.1 Apa yang dilakukan beliau merupakan hal yang biasa dilakukan oleh orang yang ada di zamannya, praktik tersebut merupakan sebuah upaya satu-satunya untuk menjauhi dan membebaskan diri dari kontaminasi pemikiran dan keyakinan buruk manusia yang ada di sekitarnya.2 Sedangkan tempat teraman kala itu adalah gua, bukan di padang pasir maupun di rumah. Apa yang diterima oleh Nabi semasa hidupnya, tidaklah berasal dari setan, melainkan dari Tuhan. Hingga akhirnya, apa yang beliau sampaikan tidak berdasarkan hawa nafsunya, dikarenakan beliau selalu mendapatkan bimbingan dari Allah sendiri. Di dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: “kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.” (Qs. An-Najm:3-4).

Jika wahyu yang didapatkan Nabi Muhammad berasal dari setan, maka suatu hal yang mustahil Islam melalui beliau, bisa melahirkan peradaban yang hasilnya bisa dirasakan oleh orang banyak. Tentang hal tersebut, Karen Armstrong mengungkapkannya, “Muhammad adalah seorang jenius yang sangat luar biasa. Tatkala wafat pada tahun 632, dia telah berhasil menyatukan hampir semua suku Arab menjadi sebuah komunitas baru atau ummah. Dia telah mempersembahkan kepada orang-orang Arab sebuah spiritualitas yang secara unik sesuai dengan tradisi mereka dan yang membukakan kunci bagi sumber kekuatan yang besar sehingga dalam waktu seratus tahun mereka telah mendirikan imperium sendiri yang luas membentang dari Himalaya hingga Pirenia, dan membangun sebuah peradaban yang unik.”3


Untuk mengetahui jawaban secara historis tentang tudingan Islam penyembah dewa bulan, bisa anda baca artikelnya disini.


Tidak hanya, Allah telah menginformasikan kepada kita, bahwa setan itu turun kepada para pendusta dan orang yang banyak dosa, sebagaimana ayat ini: “Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (Qs. Asy-Syuara:221-223). Oleh karena itu, adanya tudingan yang menyatakan, bahwa Nabi Muhammad telah mendapatkan wahyu dari setan, hal tersebut merupakan tudingan yang tidak memiliki dasar sama sekali.

                                        

Keyakinan Profesor Ditinjau Oleh Anak TK   

Menurut Kristen, bahwa setan berasal dari malaikat yang jatuh ke dalam dosa. Dasar keyakinannya yaitu berasal dari para penafsir,4 dimana kata Heylel atau bintang timur (Yesaya 14:12-15) dikorelasikan dengan pernyataan Yesus yang terdapat pada Lukas 10:18.

"Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur. (Yesaya 14:12-15 – TB)

Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. (Lukas 10:18 – TB)

                                         

Hingga akhirnya, mereka pun membandingkan ayat-ayat tersebut dengan Yudas 1:6 dan 2 Petrus 2:4, mengenai para malaikat yang tidak taat dan bisa melakukan dosa.    

Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar. (Yudas 1:6 – TB)

Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa, tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman. (2 Petrus 2:4 - TB)

 

Dari ayat-ayat Bibe di atas, maka Kristen menyimpulkan, bahwa iblis dan malaikat-malaikatnya akan ditempatkan di dalam neraka, sebagaimana yang terdapat di dalam Matius 25:41.

Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. (Matius 25:41)

              

Karena adanya dalil dari Bible tersebut, maka akhirnya Kristen berpendapat, bahwa tempat tinggal setan berada di dalam gua, dimana setan tersebut berasal dari malaikat. Tentunya perbuatan yang tidak bijak, bahkan kekanak-kanakan, jika pandangan Islam pada akhirnya ditinjau menurut keyakinan Kristen. Karena kita tahu, bahwa Aqidah antara Islam dan Kristen itu berbeda jauh.

Jika logika dan keyakinan mereka benar-benar konsisten, tentunya mereka pun harus meyakini pula, bahwa yang mengajak bicara dengan Elia adalah setan pula. Kenapa demikian? Karena saat sedang mengobrol, karena yang mengajak Elia ngobrol berada di dalam gua. Adapun ayatnya adalah sebagai berikut: Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" (1 Raja-raja 19:13). Padahal menurut pasal tersebut, yang mengajak bicara Elia adalah Tuhan, sebagaimana yang terdapat pada ayat 9. Namun yang menjadi permasalahannya, pola yang mereka terapkan kepada Nabi Muhammad, apakah bisa diterapkan balik pula oleh mereka terhadap keyakinannya sendiri?

 


Sumber:

1. A. Syalabi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam Jilid 1, (Jakarta: Al-Husna Zikra, 2000), hal. 82

2. Martin Lings, Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2018), hal. 59

3. Karen Armstrong, Sejarah Tuhan: Kisah 4.000 Tahun Pencarian Tuhan Dalam Agama-Agama Manusia, (Bandung: Mizan, 2012), hal. 215

4. https://www.sarapanpagi.org/kejatuhan-malaikat-kejatuhan-manusia-vt7063.html  Di akses pada Tanggal 17 Desember 2024.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar