
Ada sebagian umat Kristen yang telah memberikan tudingan/fitnah kepada Nabi Muhammad. Menurut Kristen, bahwa wahyu yang didapatkan oleh Muhammad bukan berasal dari Allah, melainkan dari setan. Mendapatkan wahyu dari setan, menurut mereka, karena Muhammad telah mendapatkan wahyu di dalam gua. Namun benarkah, Nabi Muhammad telah mendapatkan wahyu dari setan? Mari kita bahas.
Wahyu
Dari Setan Bisa Menghasilkan Peradaban?
Sebelum menjadi Nabi, Muhammad selalu mengasingkan
diri dan berpikir seorang diri di gua Hira. Hal itu beliau lakukan untuk
berpikir tentang alam dan pencipta-Nya, tentang kematian dan sesudah kematian,
dan lain-lain.1 Apa yang dilakukan
beliau merupakan hal yang biasa dilakukan oleh orang yang ada di zamannya,
praktik tersebut merupakan sebuah upaya satu-satunya untuk menjauhi dan
membebaskan diri dari kontaminasi pemikiran dan keyakinan buruk manusia yang
ada di sekitarnya.2 Sedangkan tempat
teraman kala itu adalah gua, bukan di padang pasir maupun di rumah. Apa yang
diterima oleh Nabi semasa hidupnya, tidaklah berasal dari setan, melainkan dari
Tuhan. Hingga akhirnya, apa yang beliau sampaikan tidak berdasarkan hawa
nafsunya, dikarenakan beliau selalu mendapatkan bimbingan dari Allah sendiri.
Di dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: “kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan
tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya
itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.” (Qs.
An-Najm:3-4).
Jika wahyu yang didapatkan Nabi Muhammad
berasal dari setan, maka suatu hal yang mustahil Islam melalui beliau, bisa
melahirkan peradaban yang hasilnya bisa dirasakan oleh orang banyak. Tentang
hal tersebut, Karen Armstrong mengungkapkannya, “Muhammad adalah seorang
jenius yang sangat luar biasa. Tatkala wafat pada tahun 632, dia telah berhasil
menyatukan hampir semua suku Arab menjadi sebuah komunitas baru atau ummah. Dia
telah mempersembahkan kepada orang-orang Arab sebuah spiritualitas yang secara
unik sesuai dengan tradisi mereka dan yang membukakan kunci bagi sumber
kekuatan yang besar sehingga dalam waktu seratus tahun mereka telah mendirikan
imperium sendiri yang luas membentang dari Himalaya hingga Pirenia, dan
membangun sebuah peradaban yang unik.”3
Untuk mengetahui jawaban secara historis tentang tudingan Islam penyembah dewa bulan, bisa anda baca artikelnya disini.
Tidak
hanya, Allah telah menginformasikan kepada kita, bahwa setan itu turun kepada
para pendusta dan orang yang banyak dosa, sebagaimana ayat ini: “Apakah akan
Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun
kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan
pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang
pendusta.” (Qs. Asy-Syuara:221-223). Oleh karena itu, adanya tudingan yang
menyatakan, bahwa Nabi Muhammad telah mendapatkan wahyu dari setan, hal
tersebut merupakan tudingan yang tidak memiliki dasar sama sekali.
Keyakinan Profesor Ditinjau Oleh Anak TK
Menurut Kristen, bahwa setan berasal dari
malaikat yang jatuh ke dalam dosa. Dasar keyakinannya yaitu berasal dari para
penafsir,4 dimana kata Heylel atau bintang
timur (Yesaya 14:12-15) dikorelasikan dengan pernyataan Yesus yang terdapat
pada Lukas 10:18.
"Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai
Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai
yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku
hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang
Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku
hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!
Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling
dalam di liang kubur. (Yesaya 14:12-15 – TB)
Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku
melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. (Lukas 10:18 – TB)
Hingga akhirnya, mereka pun membandingkan
ayat-ayat tersebut dengan Yudas 1:6 dan 2 Petrus 2:4, mengenai para malaikat
yang tidak taat dan bisa melakukan dosa.
Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang
tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat
kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai
penghakiman pada hari besar. (Yudas 1:6 – TB)
Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan
malaikat-malaikat yang berbuat dosa, tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka
dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan
mereka sampai hari penghakiman. (2 Petrus 2:4 - TB)
Dari ayat-ayat Bibe di atas, maka Kristen
menyimpulkan, bahwa iblis dan malaikat-malaikatnya akan ditempatkan di dalam
neraka, sebagaimana yang terdapat di dalam Matius 25:41.
Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di
sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk,
enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan
malaikat-malaikatnya. (Matius 25:41)
Karena adanya dalil dari Bible tersebut, maka
akhirnya Kristen berpendapat, bahwa tempat tinggal setan berada di dalam gua,
dimana setan tersebut berasal dari malaikat. Tentunya perbuatan yang tidak
bijak, bahkan kekanak-kanakan, jika pandangan Islam pada akhirnya ditinjau
menurut keyakinan Kristen. Karena kita tahu, bahwa Aqidah antara Islam dan
Kristen itu berbeda jauh.
Jika logika dan keyakinan mereka benar-benar konsisten,
tentunya mereka pun harus meyakini pula, bahwa yang mengajak bicara dengan Elia
adalah setan pula. Kenapa demikian? Karena saat sedang mengobrol, karena yang
mengajak Elia ngobrol berada di dalam gua. Adapun ayatnya adalah sebagai
berikut: Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan
jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara
kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" (1
Raja-raja 19:13). Padahal menurut pasal tersebut, yang mengajak bicara Elia
adalah Tuhan, sebagaimana yang terdapat pada ayat 9. Namun yang menjadi
permasalahannya, pola yang mereka terapkan kepada Nabi Muhammad, apakah bisa
diterapkan balik pula oleh mereka terhadap keyakinannya sendiri?
Sumber:
1.
A. Syalabi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam Jilid 1, (Jakarta: Al-Husna Zikra,
2000), hal. 82
2.
Martin Lings, Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, (Jakarta:
Serambi Ilmu Semesta, 2018), hal. 59
3.
Karen Armstrong, Sejarah Tuhan: Kisah 4.000 Tahun Pencarian Tuhan Dalam
Agama-Agama Manusia, (Bandung: Mizan, 2012), hal. 215
4. https://www.sarapanpagi.org/kejatuhan-malaikat-kejatuhan-manusia-vt7063.html Di akses pada Tanggal 17 Desember 2024.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar