
Sering kali kita mendengar kalimat, bahwa Nabi Muhammad telah mendapatkan wahyu dari Allah atau sejenisnya, dimana kalimat di dalamnya menyertakan kata wahyu. Namun tahukah anda, apa itu wahyu? Sebelum kita mengulas pembahasan mengenai bagaimana caranya Nabi Muhammad mendapatkan wahyu dari Allah, maka alangkah baiknya kita membahas terlebih dahulu tentang apa itu wahyu. Karena wahyu di dalam Islam, erat hubungannya dengan Allah, Nabi Muhammad dan Al-Qur’an.
Kata wahyu berasal dari bahasa Arab, yang diambil dari
akar kata waha ( وحى ) – yahi ( يحي ) - wahyan ( وحيا
), dimana kata tersebut sama artinya dengan kata auha-yuhi-iha. Dalam kamus
Al-Munawwir, kata tersebut memiliki beberapa arti, yaitu memberi isyarat,
memberitahu suatu rahasia, memberi ilham, dan menulis kitab. Waha juga semakna
dengan tawahha yang artinya menyembelih dan bergegas.1 Al-wahy atau wahyu merupakan kata masdar
(infinitif); dan materi kata itu menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu: tersembunyi
dan cepat. Oleh karena itu, wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan
cepat yang khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui oleh
orang lain. Selain pengertian masdar, terkadang juga pengertian wahyu ditinjau berdasarkan
isim maf’ul, yaitu al-muha, artinya yang diwahyukan.2
Terdapat 77x kata wahyu yang terdapat di dalam Al-Qur'an,
dimana kebanyakan kata wahyu di dalamnya dalam bentuk kata kerja (fi’il). Di
antaranya:3
1. Wahyu dalam arti ilham
(insting atau intuisi).
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى
مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Artinya: Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah:
"Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat
yang dibikin manusia". (Qs. An-Nahl:68)
وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ
أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِى ٱلْيَمِّ وَلَا تَخَافِى
وَلَا تَحْزَنِىٓ ۖ إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ
Artinya: Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah
dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai
(Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena
sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah
seorang) dari para rasul. (Qs. Al-Qashash:7)
2. Wahyu dengan arti perintah.
وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى ٱلْحَوَارِيِّۦنَ
أَنْ ءَامِنُوا۟ بِى وَبِرَسُولِى قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَٱشْهَدْ بِأَنَّنَا
مُسْلِمُونَ
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada
pengikut Isa yang setia: "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada
rasul-Ku". Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai
rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada
seruanmu)". (Qs Al-Maidah:111)
3. Wahyu dalam arti bisikan atau bujukan.
وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ
أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَٰدِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ
لَمُشْرِكُونَ
Artinya: Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada
kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka,
sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (Qs. Al-An’am:121)
4. Wahyu dengan arti isyarat.
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ مِنَ ٱلْمِحْرَابِ
فَأَوْحَىٰٓ إِلَيْهِمْ أَن سَبِّحُوا۟ بُكْرَةً وَعَشِيًّا
Artinya: Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia
memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan
petang. (Qs. Maryam:11)
Di atas telah di singgung mengenai lebah. Ketika lebah sedang atau sudah membuat sarangnya, dikarenakan ia telah mendapatkan wahyu dari Allah, yaitu berupa ilham/insting,
bukan berarti lebah bisa disamakan dengan Nabi Muhammad apalagi lebah dianggap sebagai nabi. Hal itu tentu saja tidak bisa disamakan, karena penerima dan
fungsinya yang telah membedakan hal tersebut. Hal ini kami singgung, karena ada
sebagian dari umat Kristen yang menyinggung wahyu di dalam Islam, karena menyamakan wahyu yang diterima oleh keduanya dan menganggap lebah sebagai nabi. Jadi kesimpulannya, meskipun
penggunaan kata wahyunya itu sama, bukan berarti memiliki arti dan makna yang
sama. Karena suatu teks, tergantung konteks.
Sumber:
1. Ajid Thohir, Sirah
Nabawiyah: Nabi Muhammad Saw Dalam Kajian Ilmu Sosial-Humaniora, (Bandung:
Marja, 2014), hal. 139
2. Manna’ Khalil al-Qattan,
Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, (Bogor: Litera Antarnusa, 2016), hal. 35
3. Muhammad Amin Suma, Ulumul Qur’an, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), hal. 81-82
Tidak ada komentar:
Posting Komentar