
Di dalam buku-buku Kristen, penjelasan mengenai asal kata Alkitab itu berasal mana, terlihat begitu jarang atau langka dibahas oleh pihak Kristen sendiri. Hingga dalam konteks di negara Indonesia saat ini, bahwa kata Alkitab terkesan sebagai nama yang hanya ditujukan bagi kitabnya agama Kristen. Adapun di dalam artikel kali ini, kita akan menelusuri tentang asal-usul istilah Alkitab, yang hingga akhirnya istilah tersebut digunakan oleh Kristen yang ada di Indonesia.
Bukti
Ketidaktahuan Kristen Mengenai Asal Kata Alkitab
Agar lebih valid mengetahui asal-usul
istilah Alkitab, mari kita cermati penjelasannya Ensiklopedia Alkitab Masa
Kini.1 Menurut ensiklopedia, bahwa Alkitab
merupakan nama kumpulan kitab-kitab yang diakui sebagai kanonik, dan diakui
sebagai Firman Allah oleh gereja Kristen. Nama ini, yang berdasarkan pemakaian
kata Yunani (yaitu) Biblia (jamak, buku-buku) bagi keseluruhan kumpulan
kitab-kitab itu seolah-olah satu kitab saja. Dari adanya penjelasan dari
ensiklopedia tersebut, terlihat masih belum ada kejelasan mengenai asal-usul
kata Alkitab. Bahkan dari penjelasan tersebut telah disertai adanya syarat,
yaitu kumpulan kitab-kitab kanonik yang diakui sebagai Firman Allah oleh
gereja. Tentunya hal tersebut memunculkan masalah baru dan juga pertanyaan, Alkitab versi mana yang
diakui oleh pihak gereja, apakah Alkitab dari versi Gereja Katolik Roma,
ataukah dari Gereja Kristen Ortodoks, ataukah Kristen Protestan, ataukah
Kristen Tewahedo atau dari gereja versi yang mana? Karena beda gerejanya,
berbeda pula penetapan dari isi kitab-kitabnya.
Mengenai darimana asal istilah
Alkitab itu ada, seorang Pendeta yang sekaligus sebagai dosen di Bethesda
International Seminary, yaitu Jonar Situmorang, telah memberikan pernyataannya
secara jujur. Adapun pernyataannya adalah sebagai berikut: “Awalnya saya
berpikir Alkitab berarti buku milik Allah, yang terdiri dari dua kata al
(Allah) dan kitab (buku). Ternyata pemahaman saya ini keliru. Saya tidak
mengetahui orang yang pertama kali menyebut istilah Alkitab.”2 Jonar Situmorang ternyata tidak mengetahui
tentang darimana asal-usul kata Alkitab itu bisa muncul dan digunakan. Jika
dosen dan pendetanya seperti itu, lalu bagaimana dengan pengetahuan dari para
jemaat dan mahasiswanya?
Jika
kita merujuk kepada keyakinan Kristen yang meyakini Perjanjian Barunya berasal
dari Yunani, dimana lingkungannya kala itu tumbuh di tengah peradaban Romawi-Yunani,
tentunya mereka harus konsisten menggunakan nama Biblos atau Biblia, bukan menggunakan
nama Alkitab. Kenapa harus Biblos atau Biblia? Karena menurut Jonar, bahwa orang
Romawi telah menerjemahkan buku ke dalam bahasa Yunani dengan nama Biblos atau
bahasa Latinnya adalah Biblion. Jonar kembali menambahkan, adapun Biblia adalah
gulungan buku yang dibuat dari papyrus yang kemudian artinya menjadi bahan
untuk menulis. Sedangkan orang yag pertama kali menggunakan istilah Biblia,
menurut Jonar, adalah Hieronymus yang telah menggunakan istilah Biblia dalam
bahasa Latin, dimana kata itu diambil dari bahasa Yunani, yaitu Biblos.3
Lalu
Darimana Asal-Usul Kata Alkitab Itu?
Istilah Alkitab merupakan kata yang
berasal dari bahasa Arab, yaitu كتب.
Dalam ilmu nahwu shorof,4 kitabun ( كتب ) merupakan istilah yang masih bersifat
umum (isim nakirah). Namun lain halnya jika kitabun menggunakan alif lam ( ال ) di depannya, maka kata benda tersebut
memiliki makna yang khusus (isim ma’rifat). Hingga akhirnya, kata tersebut
berubah menjadi alkitabu atau alkitab (الكتب
). Sedangkan nama Alkitab merupakan nama lain dari kitab Al-Quran, Kitab Sucinya
umat Islam, dimana salah satu dasarnya terdapat pada Surat Al-Baqarah ayat 2,
yaitu:
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ
لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Artinya:
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertakwa.”
Lalu kenapa Al-Qur'an bisa disebut dengan nama Alkitab? Al-Qur'an dinamakan dengan Alkitab karena ia ditulis
dengan menggunakan pena, dimana kedua nama tersebut (Al-Qur’an dan Alkitab)
telah menunjukan makna yang sesuai dengan kenyataannya.5
Mungkin di antara pembaca ada yang
berdalih, bahwa nama Alkitab telah terlebih dahulu digunakan oleh orang Kristen di Arab, jauh sebelum Islam ada di abad ke-7 Masehi. Pandangan tersebut tentunya
tidak memiliki dasar sama sekali, karena di masa sebelum dan sesudah Nabi Muhammad, orang-orang Kristen di Arab kala itu tidak menggunakan Biblenya dari
terjemahan bahasa Arab,6 baik untuk
Biblosnya maupun untuk kitab Perjanjian Baru.7
Dan sudah barang tentu, nama kitabnya Kristen pada waktu itu tidak menggunakan
istilah Alkitab, karena Biblos baru diterjemahkan ke dalam bahasa Arab di abad 9
Masehi, masa setelah Nabi Muhammad. Dan itu semakin terbukti setelah adanya
penemuan codex 151 di gunung Sinai, yang ternyata dibuat pada tahun 867 M.8
Dari adanya penjelasan di atas, maka penggunaan istilah Alkitab bagi kitabnya umat Kristen, hal itu tidaklah tepat. Karena berdasarkan aspek sejarah, justru penggunaan istilah Alkitab tersebut merujuk kepada nama lain dari Al-Qur’an, kitabnya umat Islam. Sedangkan nama asli Akitab, kitabnya umat Kristen, adalah Biblos atau Biblia atau Biblion, bukan Alkitab. Jadi menurut anda, pihak mana yang telah menjiplak istilah Alkitab, Kristen ataukah Islam? Tentunya saja Kristen, yang terbukti Alkitab telah menjiplak dari Al-Qur'an, kitabnya umat Islam.
Mungkin
di antara anda ada yang berkilah, bahwa nama atau bahasa tidaklah memiliki
agama atau tidak bisa dimonopoli oleh agama manapun. Tentunya pandangan
tersebut telah mengkerdilkan identitas keagamaan tertentu. Dan jika penggunaan
nama atau istilah itu tidak bermasalah, maka sudah barang tentu ketika Kristen
Protestan sedang melakukan Perjamuan Kudus, maka mereka akan menggunakan
istilah dengan nama Ekaristi. Dan jika Protestan menggunakan istilah itu,
tentunya akan ditentang oleh pihak Katolik Roma dan Ortodoks yang menjadi
pemiliki nama tersebut.
Sumber:
1. Ensiklopedia
Alkitab Masa Kini Jilid 1, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2016), hal.
28
2. Jonar.
S, Bibliologi: Menyingkap Sejarah Perjalanan Alkitab dari Masa Ke Masa, (Yogyakarta:
Andi, 2017), hal. 9
3. Idem.,
hal. 10
4.
https://www.nahwushorof.id/2021/06/isim-nakirah-dan-isim-marifat.html
Di akses pada Tanggal 21 Desember 2024.
5. Manna’
Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, (Bogor: Litera Antarnusa, 2016), hal.
18-19
6.
Karel Steenbrink, Nabi Isa Dalam Al-Qur’an: Sebuah Interpretasi Outsider atas
Al-Qur’an, (Yogyakarta: Suka Press, 2015), hal. 16
7.
William Montgomery Watt, Titik Temu Islam-Kristen: Persepsi dan Salah Persepsi,
(Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996), hal. 9
8.
https://www.arabicbible.com/codex-151.html
Di akses pada Tanggal 21 Desember 2024.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar