
Ketika seorang Muslim tidak mengenal dan memahami aqidah Islam, maka bisa dipastikan bahwa aqidah Muslim tersebut akan abu-abu dalam keyakinannya karena tidak mencerminkan aqidah Islam, sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Dan di artikel ini, tidak saja membahas tentang arti dan akar kata aqidah saja, melainkan membahas tentang aqidah dasar seorang Muslim, dimana hal ini sebagai bukti adanya perbedaan akidah antara Muslim dan non-Muslim (kafir).
Akidah berasal dari kata
aqada, yang artinya menyatukan ujung-ujung sesuatu, dimana kata akidah tersebut
berasal dari bahasa Arab. Kata aqada ini terkadang dipakai untuk menyebutkan
benda fisik, seperti ‘aqad al-habli (sampul tali), atau untuk menyebutkan
makna, seperti aqad an-nikah. Makna akar kata aqada itu berkisar pada makna
hubungan yang kokoh antara dua perkara. Seperti dalam Firman Allah, “kecuali
jikaf isteri-isterimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang
ikatan nikah (uqdatu nikah) (Qs. Al-Baqarah:237). Sedemikian kuat ikatan
itu sehingga disebut sebagai perjanjian yang kuat, sebagaimana Firman Allah di
dalam Al-Qur'an ini: “Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu
perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalidan).” (Qs. An-Nisa:21). Jika di dalam
fiqh dikenal dengan istilah benar dan salah, maka di dalam aqidah dikenal
dengan istilah haq dan bathil, dimana di dalam aqidah tidak mengenal sama
sekali sikap abu-abu. Dalam konteks aqidah, hal itu menyangkut hubungan tentang
masalah keyakinan, bukan berhubungan dengan amal.
Ada empat akidah yang paling dasar, dimana hal itu menjadi ciri keimanan seseorang dan membedakannya dengan non-Muslim (kafir). Keempat itu adalah sebagai berikut:
1.
Keberadaan Allah dan keesaan-Nya. Bahwa hanya Dia yang menciptakan, mengurus,
dan mengatur alam semesta. Tidak ada yang menandingi-Nya dalam keagungan,
kekuasaan, dan keserupaan dalam dzat dan sifat. Sehingga hanya Dia yang berhak
untuk disembah, disucikan, hanya kepada-Nyalah meminta pertolongan serta
memberikan ketundukan. Adapun dalil Al-Qur’annya adalah sebagai berikut:
“Katakanlah, ‘Dialah Allah,
Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan; tidak pula ada seorang pun yang
setara dengan-Nya.’” (QS Al-Ikhlas:1-4).
Katakanlah: "Apakah akan
aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi,
padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?" Katakanlah:
"Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali
menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang
musyrik". (Qs. Al-An‘am:14).
Katakanlah: sesungguhnya
sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku
dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". Katakanlah:
"Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi
segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya
kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul
dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan
diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan". (Qs.
Al-An’am:162-164).
2. Allah mengutus nabi dan
rasul dari hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Melalui perantara malaikat, risalah
Allah diwahyukan kepada nabi dan utusan-Nya, agar disampaikan kepada seluruh
umat manusia. Setiap umat mendapatkan peringatan para rasul. Karena itu jumlah
rasul sangat banyak. Mereka mengajak untuk beriman, beramal shaleh dan menjauhi
thagut. Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (Qs.
An-Nahl:36). Ada dua tuntutan keimanan berkenaan dengan perkara ini:
a. Keimanan yang detil. Dalam
arti, wajib beriman kepada semua nabi dan rasul yang disebutkan nama-nama
mereka di dalam Al-Qur’an, juga disebutkan oleh Nabi Muhammad di dalam hadis yang shahih. Menolak kenabian salah seorang dari mereka yang disebutkan di
dalam Al-Qur’an, sama saja dengan menolak seluruh kenabian. Maka rukun imannya
kepada nabi dan rasul tidak terpenuhi.
b. Keimanan global. Terkait
dengan para nabi dan rasul yang tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an atau yang
25 nabi, kita hanya diwajibkan percaya bahwa jumlahnya sangat banyak. Tetapi
siapa saja mereka itu, kita tidak mendapatkan beban untuk mengetahui dan
mengimani satu demi satu. Sebab itu, dugaan tokoh-tokoh tertentu dalam sejarah,
karena ajaran yang dibawanya menyerupai para nabi, tidak boleh dipastikan dan
diimani kenabiannya. Praduga dalam hal ini tidak memadai untuk menetapkan
perkara iman, sebagaimana Firman Allah ini: “Padahal, mereka tidak mempunyai
pengetahuan tentang hal itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan dan
sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.”
(Qs. An-Najm:28).
3. Beriman kepada malaikat
yang merupakan perantara untuk menyampaikan wahyu dari Allah kepada rasul-Nya.
Demikian pula beriman kepada risalah-risalah Allah kepada makhluk-Nya.
4. Beriman kepada kandunga
risalah. Seperti beriman kepada hari kebangkitan dan pembalasan (negeri
akherat). Juga beriman kepada ajaran-ajaran pokok yang telah digariskan Allah
kepada hamba-hamba-Nya, sesuai dengan kesiapan dan kemaslahatan mereka.
Ajaran-ajaran itu merupakan bentuk keadilan kasih-sayang, keagungan, serta
kebijakan Allah.
Sumber:
Abas Mansur Tamam, Islamic
Worldview: Paradigma Intelektual Muslim, (Jakarta: Spirit Media Press, 2017),
hal. 34-36
Tidak ada komentar:
Posting Komentar