
Di dalam agama Kristen terdapat istilah ibadah 3 waktu atau 7 waktu, dimana tatacara ibadah harian tersebut dilakukan dalam sehari oleh Kristen Katolik Ortodoks. Dan ternyata, ibadah yang dilakukan oleh Kristen Ortodoks, tidaklah pernah dipraktekkan oleh Yesus Kristus di masa hidupnya. Justru terbentuknya cara ibadah tiga waktu atau tujuh waktu (katanya shalat Kristen) tersebut, termasuk bacaan di dalamnya, terbentuk di zaman Bapa-bapa Gereja.
Yudaisme mengenal dua atau tiga waktu doa.
Ketiga waktu doa ini dilakukan secara personal dan di luar ibadah komunal.
Markus 1:35; 6:46-47 menginformasikan praktik doa pagi dan doa malam (Yahudi)
yang dilakukan Yesus sebagai berikut:
I. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, ia
(Yesus) bangun dan pergi keluar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di
sana.
II. Ia (Yesus) pergi ke bukit untuk berdoa,
ketika hari sudah malam Yesus tinggal sendirian di darat.
Selain ibadah individual, sinagoge memelihara
tradisi ibadah harian komunal, yang kemudian dipraktikan oleh gereja. Ada dua
waktu ibadah komunal, yaitu doa matahari terbit atau tefilat syarar, kemudian
dinamakan ad matutinum, dan doa matahari terbenam atau tefilat ha’erev,
kemudian dinamakan ad verperas. Disiplin melakukan ibadah harian ikut membentuk
spiritualitas “ora et labora” di kalangan gereja. Beberapa bapa gereja
memelihara tradisi ibadah harian hingga abad ke-4 Masehi pra-Konstantin. Ketika
tradisi menyendiri, yakni akar dari tradisi membiara, mulai tumbuh, kaum asket
Mesir dan Timur tengah mempraktikkan ibadah harian.
Praktik ibadah atau doa individual dijalankan
sejak zaman Perjanjian Lama. Daniel 6:11, menuliskan: “tiga kali sehari ia
berlutut dan berdoa”. Cara-cara ini lalu menjadi doa-doa siang. Dalam doa
komunal perlu frekuensi dan keteraturan. Waktu doa tidak boleh kurang dari pada
tiga kali sehari. Dilakukan pada jam ke-3 Tertia (ad tertiam, sekitar jam
09.00), jam 6 Sexta (ad sextam, sekitar jam 12.00), dan jam ke-9 Nona (ad
nonam, sekitar jam 15.00). waktu terhitung dari jam 06.00 (ad primam, jam
pertama). Tertullianus menjelaskan makna doa harian sebagai berikut:
“Dalam Surat Lukas dikatakan tentang doa jam
ke-3 (Kisah Para Rasul 2:15) ketika orang-orang yang dipenuhi Roh Kudus
disangka mabuk; jam ke-6 (Kisah Para Rasul 10:9) ketika Petrus naik ke sotoh
rumah; dan jam ke-9 (Kisah Para Rasul 3:1) ketika mereka berkumpul dalam Bait
Tuhan. Mengapa kita tidak mau insaf, bahwa sekalipun kita bebas untuk berdoa di
segala tempat dan pada segala waktu, kita harus memelihara ketiga waktu doa
ini, yang dalam hidup manusia telah dikhususkan pada watu-waktu kerja dan
diumumkan sebagai waktu-waktu yang harus dipakai dengan gembira untuk berdoa
kepada Tuhan? Hal ini dibuat juga oleh Daniel, yang berdoa tiga kali sehari dan
yang untuk maksud itu mengistimewakan waktu-watu tertentu yang telah pasti,
tidak lain dari waktu-waktu yang dipakai rasul-rasul, yaitu jam ke-3, ke-6 dan
ke-9.”
Ketiga waktu doa tersebut dilakukan pada waktu
siang dan menjadi lazim. Maksud disiplin ini adalah agar umat tetap memelihara
hubungan dengan Tuhan. Umat selalu mengingat Tuhan selagi kerja dan di dalam
kehidupan sehari-hari. Waktu-watu itu dituliskan dalam Mazmur-mazmur. Mazmur
92:3 (pagi dan malam); 119:55 (malam); 134:1 (malam) dinyanyikan atau dibacakan
sebagai doa pagi dan doa malam.
Sebelum ada perkembangan ibadah siang, ibadah
malam telah dikenal lebih dahulu oleh umat Kristen. Doa dijadikan bukan
kegiatan di luar kehidupan manusia. Doa malam di zaman patristik. Doa pembukaan
sekitar jam 03.00, sebagaimana Mazmur 119:147-148: “Pagi-pagi buta aku bangun
mendahului waktu jaga malam”. Doa pelengkap (ad completorium) pada waktu petang
menjelang jam 12.00, sebagaimana Mazmur 141:2: “Doaku dan tanganku yang
terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang”. Ritus doa malam
(lucernarium) adalah sebagai berikut:
Lilin atau cahaya dibawa masuk ke ruangan, berkat atas lilin atau cahaya
senja. Ritus malam ini terbawa ke dalam liturgi terang (laus cerei, yaitu
puji-pujian menyambut penyalaan lilin dalam liturgi malam paskah pada waktu
kemudian).
Tata liturgi doa siang adalah sebagai berikut:
• Doa-doa pujian bersama
• Pengucapa syukur bersama untuk ekaristi
• Doa syafaat berbentuk latin dengan aklamasi
Kyrie elesion atau “Kabulkanah doa kami”.
Ritus doa pagi (pada matahari terbit), sebagai
berikut:
• Menyanyikan Mazmur pujian (Laudate), yaitu
Mazmur-mazmur yang dimulai dengan pujilah (laudat), seperti Mazmur 103-104;
113; 134-135; 148-150.
• Pembacaan Bible
• Refleksi Alkitabiah
Hingga awal abad ke-3 Masehi adalah lazim doa
dilakukan sebagai berikut:
• Doa pagi dilakukan pada jam pertama atau jam
06.00 sebab Tuhan telah bangkit.
• Doa ke-3 (Kisah Para Rasul 2:15) dan doa jam
ke-5 (Kisah Para Rasul 10:9), sebab Ia (Tuhan) adalah matahari dan terang yang
benar, yang kita rindukan.
• Doa jam ke-9 (Kisah Para Rasul 16:25), sebab
Tuhan telah menanggung sengsara yang hebat.
• Doa malam (Kisah Para Rasul 16:25) dilakukan
pada jam 17.00-18.00 atau pada malam hari sebab bagi anak-anak terang, malam
adalah sama dengan siang (Mazmur 92:3; 139:12; Efesus 5:8).
Kelima waktu berdoa berdasarkan Sacramentum
Trinitatis yang berasal dari Cyprianus (200-258 M) ini merupakan perkembangan
kemudian. Ia mendukung dan memberi uraian teologis terhadap doa yang telah dan
sedang berjalan.
Informasi lain berdasarkan Tradisi Rasuli dari
Hippolytus (215 M) memperlihatkan waktu berdoa menjadi tujuh kali sehari
(Mazmur 119:164). Hippolytus menguraikan watu doa secara kristosentris
berdasarkan Markus secara dominan sebagai berikut:
• Doa pagi dilakukan sebangun tidur, seteah
mencuci tangan, mencuci muka dan bebersih diri, sebelum kerja.
• Doa jam ke-3 dilakukan di rumah dengan berdoa
dan bernyanyi. Jika sedang berada di luar rumah, berdoalah di dalam hati. Pada
waktu ini Kristus dipaku di salib.
• Doa jam ke-6, pada waktu penyaliban itu siang
berhenti dan langit menjadi gelap. Maka berdoalah dengan kuasa yang besar.
• Doa jam ke-9, air dan darah mengucur dari
tubuh Kristus.
• Doa senja dilakukan sebelum tidur pada waktu
petang.
• Doa tengah malam dilakukan pada sekitar jam
20.00 setelah cuci tangan dan muka. Jika istri adalah Kristen, berdoalah
bersama-sama. Jika istri bukan Kristen, berdoalah di ruang lain. Pada waktu
ini, seluruh alam dan makhluk berhenti memuji. Maka, orang Kristen memuji dan
berdoa. Doa ini dimaksudkan agar berjaga-jaga sebab kamu tidak tahu akan hari
maupun akan saatnya (Matius 25:13).
• Doa ayam berkokok dilakukan untuk mengingat
Petrus menyangkal Yesus (Markus 14:30; 66-72). Dalam praktiknya, doa ayam
berkokok yang dilakukan sekitar jam 03.00 dinihari disebut juga doa pembuka
atau ibadah malam.
Dikutip dari: Rasid Rachman, Pembimbing Ke
Dalam Sejarah Liturgi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), hal. 21-25
Tidak ada komentar:
Posting Komentar