2024/12/13

Ibadah Tujuh Waktunya Kristen Ortodoks

 

tatacara ibadahnya kristen ortodoks

Oleh: Bang Data.

Di dalam agama Kristen terdapat istilah ibadah 3 waktu atau 7 waktu, dimana tatacara ibadah harian tersebut dilakukan dalam sehari oleh Kristen Katolik Ortodoks. Dan ternyata, ibadah yang dilakukan oleh Kristen Ortodoks, tidaklah pernah dipraktekkan oleh Yesus Kristus di masa hidupnya. Justru terbentuknya cara ibadah tiga waktu atau tujuh waktu (katanya shalat Kristen) tersebut, termasuk bacaan di dalamnya, terbentuk di zaman Bapa-bapa Gereja.

Yudaisme mengenal dua atau tiga waktu doa. Ketiga waktu doa ini dilakukan secara personal dan di luar ibadah komunal. Markus 1:35; 6:46-47 menginformasikan praktik doa pagi dan doa malam (Yahudi) yang dilakukan Yesus sebagai berikut:

I. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, ia (Yesus) bangun dan pergi keluar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

II. Ia (Yesus) pergi ke bukit untuk berdoa, ketika hari sudah malam Yesus tinggal sendirian di darat.

Selain ibadah individual, sinagoge memelihara tradisi ibadah harian komunal, yang kemudian dipraktikan oleh gereja. Ada dua waktu ibadah komunal, yaitu doa matahari terbit atau tefilat syarar, kemudian dinamakan ad matutinum, dan doa matahari terbenam atau tefilat ha’erev, kemudian dinamakan ad verperas. Disiplin melakukan ibadah harian ikut membentuk spiritualitas “ora et labora” di kalangan gereja. Beberapa bapa gereja memelihara tradisi ibadah harian hingga abad ke-4 Masehi pra-Konstantin. Ketika tradisi menyendiri, yakni akar dari tradisi membiara, mulai tumbuh, kaum asket Mesir dan Timur tengah mempraktikkan ibadah harian.

 

Praktik ibadah atau doa individual dijalankan sejak zaman Perjanjian Lama. Daniel 6:11, menuliskan: “tiga kali sehari ia berlutut dan berdoa”. Cara-cara ini lalu menjadi doa-doa siang. Dalam doa komunal perlu frekuensi dan keteraturan. Waktu doa tidak boleh kurang dari pada tiga kali sehari. Dilakukan pada jam ke-3 Tertia (ad tertiam, sekitar jam 09.00), jam 6 Sexta (ad sextam, sekitar jam 12.00), dan jam ke-9 Nona (ad nonam, sekitar jam 15.00). waktu terhitung dari jam 06.00 (ad primam, jam pertama). Tertullianus menjelaskan makna doa harian sebagai berikut:

“Dalam Surat Lukas dikatakan tentang doa jam ke-3 (Kisah Para Rasul 2:15) ketika orang-orang yang dipenuhi Roh Kudus disangka mabuk; jam ke-6 (Kisah Para Rasul 10:9) ketika Petrus naik ke sotoh rumah; dan jam ke-9 (Kisah Para Rasul 3:1) ketika mereka berkumpul dalam Bait Tuhan. Mengapa kita tidak mau insaf, bahwa sekalipun kita bebas untuk berdoa di segala tempat dan pada segala waktu, kita harus memelihara ketiga waktu doa ini, yang dalam hidup manusia telah dikhususkan pada watu-waktu kerja dan diumumkan sebagai waktu-waktu yang harus dipakai dengan gembira untuk berdoa kepada Tuhan? Hal ini dibuat juga oleh Daniel, yang berdoa tiga kali sehari dan yang untuk maksud itu mengistimewakan waktu-watu tertentu yang telah pasti, tidak lain dari waktu-waktu yang dipakai rasul-rasul, yaitu jam ke-3, ke-6 dan ke-9.”

 

Ketiga waktu doa tersebut dilakukan pada waktu siang dan menjadi lazim. Maksud disiplin ini adalah agar umat tetap memelihara hubungan dengan Tuhan. Umat selalu mengingat Tuhan selagi kerja dan di dalam kehidupan sehari-hari. Waktu-watu itu dituliskan dalam Mazmur-mazmur. Mazmur 92:3 (pagi dan malam); 119:55 (malam); 134:1 (malam) dinyanyikan atau dibacakan sebagai doa pagi dan doa malam.

 

Sebelum ada perkembangan ibadah siang, ibadah malam telah dikenal lebih dahulu oleh umat Kristen. Doa dijadikan bukan kegiatan di luar kehidupan manusia. Doa malam di zaman patristik. Doa pembukaan sekitar jam 03.00, sebagaimana Mazmur 119:147-148: “Pagi-pagi buta aku bangun mendahului waktu jaga malam”. Doa pelengkap (ad completorium) pada waktu petang menjelang jam 12.00, sebagaimana Mazmur 141:2: “Doaku dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang”. Ritus doa malam (lucernarium) adalah sebagai berikut:  Lilin atau cahaya dibawa masuk ke ruangan, berkat atas lilin atau cahaya senja. Ritus malam ini terbawa ke dalam liturgi terang (laus cerei, yaitu puji-pujian menyambut penyalaan lilin dalam liturgi malam paskah pada waktu kemudian).

 

Tata liturgi doa siang adalah sebagai berikut:

• Doa-doa pujian bersama

• Pengucapa syukur bersama untuk ekaristi

• Doa syafaat berbentuk latin dengan aklamasi Kyrie elesion atau “Kabulkanah doa kami”.

 

Ritus doa pagi (pada matahari terbit), sebagai berikut:

• Menyanyikan Mazmur pujian (Laudate), yaitu Mazmur-mazmur yang dimulai dengan pujilah (laudat), seperti Mazmur 103-104; 113; 134-135; 148-150.

• Pembacaan Bible

• Refleksi Alkitabiah            

 

Hingga awal abad ke-3 Masehi adalah lazim doa dilakukan sebagai berikut:

• Doa pagi dilakukan pada jam pertama atau jam 06.00 sebab Tuhan telah bangkit.

• Doa ke-3 (Kisah Para Rasul 2:15) dan doa jam ke-5 (Kisah Para Rasul 10:9), sebab Ia (Tuhan) adalah matahari dan terang yang benar, yang kita rindukan.

• Doa jam ke-9 (Kisah Para Rasul 16:25), sebab Tuhan telah menanggung sengsara yang hebat.

• Doa malam (Kisah Para Rasul 16:25) dilakukan pada jam 17.00-18.00 atau pada malam hari sebab bagi anak-anak terang, malam adalah sama dengan siang (Mazmur 92:3; 139:12; Efesus 5:8).

Kelima waktu berdoa berdasarkan Sacramentum Trinitatis yang berasal dari Cyprianus (200-258 M) ini merupakan perkembangan kemudian. Ia mendukung dan memberi uraian teologis terhadap doa yang telah dan sedang berjalan.

 

Informasi lain berdasarkan Tradisi Rasuli dari Hippolytus (215 M) memperlihatkan waktu berdoa menjadi tujuh kali sehari (Mazmur 119:164). Hippolytus menguraikan watu doa secara kristosentris berdasarkan Markus secara dominan sebagai berikut:

• Doa pagi dilakukan sebangun tidur, seteah mencuci tangan, mencuci muka dan bebersih diri, sebelum kerja.

• Doa jam ke-3 dilakukan di rumah dengan berdoa dan bernyanyi. Jika sedang berada di luar rumah, berdoalah di dalam hati. Pada waktu ini Kristus dipaku di salib.

• Doa jam ke-6, pada waktu penyaliban itu siang berhenti dan langit menjadi gelap. Maka berdoalah dengan kuasa yang besar.

• Doa jam ke-9, air dan darah mengucur dari tubuh Kristus.

• Doa senja dilakukan sebelum tidur pada waktu petang.

• Doa tengah malam dilakukan pada sekitar jam 20.00 setelah cuci tangan dan muka. Jika istri adalah Kristen, berdoalah bersama-sama. Jika istri bukan Kristen, berdoalah di ruang lain. Pada waktu ini, seluruh alam dan makhluk berhenti memuji. Maka, orang Kristen memuji dan berdoa. Doa ini dimaksudkan agar berjaga-jaga sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya (Matius 25:13).

• Doa ayam berkokok dilakukan untuk mengingat Petrus menyangkal Yesus (Markus 14:30; 66-72). Dalam praktiknya, doa ayam berkokok yang dilakukan sekitar jam 03.00 dinihari disebut juga doa pembuka atau ibadah malam.



Dikutip dari: Rasid Rachman, Pembimbing Ke Dalam Sejarah Liturgi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), hal. 21-25


Tidak ada komentar:

Posting Komentar