
Menurut Kristen, pengarang Injil Markus adalah Markus, dimana ia adalah muridnya Yesus yang menjadi saksi matanya Yesus Kristus. Sama halnya dalam sejarah kepenulisan Injil Matius, ternyata Injil Markus pun mengalami carut-marut dalam menentukan siapakah penulis Injil Markus ini. Itu terjadi, karena banyak dari para ahli yang menolak, bahwa pengarang kitab Injil ini adalah muridnya Yesus.
Siapakah
Penulis Injil Menurut Markus?
Menurut beberapa pendapat Bapa Gereja, seperti
Papias; Irenaeus; dan Origenes, bahwa Injil menurut Markus merupakan hasil
karya dari teman sekerja dan penerjemah Petrus. Bahkan di dalam Kisah Para
Rasul (KPR) 12:12 dan 1 Petrus 5:13, nama penulis Injil Markus telah
dihubungkan dengan Yohanes Markus.1
Selain mereka, ada pula pihak lain, seperti: seperti Clemens dari Aleksandria;
Yerom dan juga terdapat di dalam Pengantar Anti-Marsiones dari abad kedua
Masehi.2
Umat
Kristen meyakini, bahwa Yohanes Markus adalah nama lain dari penulis Injil
Markus. Namun hal tersebut, masih dinilai sebagai sebuah kemungkinan. Oleh
karena itu, mereka memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyangsikan nama
Yohanes Markus sebagai pengarang kitab Injil Markus. Dan perlu diketahui, bahwa
penulis Injil Markus bukanlah seorang tokoh yang cukup terkenal, seperti halnya
Paulus atau Petrus.3 Karena pada
dasarnya, nama Markus merupakan nama umum yang telah banyak digunakan oleh orang
lain. Menurut John Drane, bahwa namanya tidak bisa digunakan sebagai pegangan.
Selanjutnya ia menambahkan, dalam mempertimbangkan persoalan ini, kita harus
ingat tidak satu pun kitab Injil yang telah menyebutkan nama penulisnya.4 Senada dengan John Drane, seorang Guru Besar Alkitab dan Teologi, Merrill C. Tenney, semakin memperjelas tentang jati diri
dari pengarang kitab Injil Markus ini, menurutnya, “Tidak banyak yang diketahui mengenai penulis Injil ini. Namanya tidak
pernah disebut-sebut di sepanjang buku ini; dan dapat dikatakan sedikit sekali
ayat-ayat yang memberikan petunjuk tentang minat dan kepribadiannya, apalagi
jati dirinya.”5
Untuk mengetahui bukti Paulus telah menjiplak isi dari kitab lain, bisa anda cek disini.
Dari
informasi di atas semakin terang-benderang, bahwa penulis Injil Markus ini pada
dasarnya adalah anonim. Adanya informasi pertama yang menyatakan, bahwa Markus
adalah pengarang kitab Injil Markus, itu semua berasal dari pendapatnya Papias.
Mengenai Papias, Samuel Benyamin Hakh, menuturkan, “Pada tahun 130 M, Papias (70-146 M, seorang Uskup dari Hieropolis di
Frigia, Asia Kecil) menuliskan sebuah karangan berjudul ‘Tafsiran Terhadap
Perkataan-Perkataan Tuhan.’ Tulisan ini dikutip oleh Eusebius (260-340 M),
seorang sejarawan dan Bishop dari Kaisarea. Dalam tulisan ini, diberitahukan
bahwa Markus adalah penerjemah Petrus yang menuliskan karya ini secara cermat
(Ecclesiastical History 3:39:15; 6:14:6). Jadi, Petrus dipandang sebagai orang
yang berdiri di belakang tulisan Injil Markus ini. Ada juga salah satu tradisi
yang dipelihara oleh Eusebius dari Clemens dari Aleksandria (150-220 M), yang
menghubungkan Markus dan Petrus di Roma.”6
Carut-marutnya
kepengarangan Injil Markus semakin terungkap. Karena para Bapa Gereja tersebut
tidaklah sezaman dengan pengarang Injil Markus, apalagi dengan Yesus Kristus.
Mengenai hal tersebut, Merrill C Tenny, menuturkan, “Eusebius juga mengutip Clemens dari Alexandria (sekitar tahun 180 M)
yang antara lain mengatakan, bahwa para pendengar Petrus mendesak Markus untuk
membuat catatan tentang ajaran yang disampaikan Petrus secara lisan, dan bahwa
Petrus memerintahkan untuk membacakan Injil dalam jemaat-jemaat. Origenes,
pengganti Clemens (sekitar tahun 225 M) konon mengatakan, bahwa Markus
menuliskan Injilnya seperti yang dijelaskan Petrus kepadanya. Irenaeus
menguatkan tradisi ini dengan mengatakan, bahwa ‘sepeninggal Petrus dan Paulus,
Markus meninggalkan catatan tertulis bagi kita mengenai segala sesuatu yang
diajarkan oleh Petrus.’ Kebenaran tradisi ini dapat dipertanyakan karena mereka
bukan berasal langsung dari abad yang pertama, tetapi perlu diperhatikan bahwa
mereka semua menyetujui kepenulisan Markus atas Injil Kedua, dan mereka semua
menghubungkannya dengan ajaran Petrus.”7
Pandangan
Merrill C. Tenney di atas telah diperkuat oleh Willi Marxsen, menurutnya, “Menurut fragmen (Papias) ini, Markus adalah
teman dan penafsir dari Petrus yang ia temani dalam perjalanan-perjalanan
penginjilannya. Markus katanya telah menuliskan ajaran-ajaran Petrus dari ingatannya
setelah kematiannya, dan telah berusaha melakukannya dengan hati-hati, tanpa memberikan
rangkaian peristiwa (historis) yang tepat.”8
Sedangkan untuk hubungan antara Markus
dengan Petrus, C. Groenen, mengungkapkannya, sebagai berikut: “Menurut
kesaksian pujangga Gereja, Papias (sekitar tahun 120 M), ada hubungan erat
antara Markus, penyusun Injil, dan Petrus. Tetapi hal itu mungkin hanya
berdasarkan 1 Petrus 5:13 melulu. Dan nilai 1 Petrus (bukan karangan Rasul
Petrus) juga perlu dipertanyakan. Maka tidak pasti juga, bahwa penulis Markus
benar-benar sama dengan Yohanes Markus yang tampil dalam Perjanjian Baru.”9
Dan
mengenai Petrus, kenapa ia tidak menuliskan sendiri atas apa yang ia ketahui
mengenai Yesus, ternyata ia adalah seorang yang buta huruf (yang tidak baca-tulis),
dimana informasi tersebut bisa kita temukan di dalam Kisah Para Rasul 4:13.10 Karena di dalam ayat tersebut, terdapat kata
agrammatos dengan nomer leksikonnya 62, dimana artinya itu adalah bodoh; tidak
terpelajar. Dan jika umat Kristiani meyakini, bahwa KPR 4:13 adalah Firman
Tuhan, tentunya mereka pun harus meyakini, bahwa Petrus dan Yohanes adalah
orang yang buta huruf.11 Terlebih di
sepanjang abad ke-2 M, orang yang melek huruf pada masa itu bisa dihitung
dengan jari. Artinya, bahwa mayoritas masyarakat kala itu adalah orang-orang
yang buta huruf.12 Dan mengenai hal
tersebut, kita memiliki dukungan sejarahnya, yaitu dari Celsus, menurutnya,
karena imannya, orang-orang Kristen telah mengorbankan akal budinya.13 Untuk menyerang agama Kristen, Celsus telah
menulis sebuah buku yang berjudul Firman Yang Sebenarnya. Karena menurut Celsus,
bahwa agama tersebut bodoh, berbahaya, dan harus dihapuskan dari muka bumi.
Sayangnya, karya Celsus tersebut tidak bisa kita dapatkan, selain dari
kutipan-kutipan yang bisa kita dapatkan dari tulisannya para Bapa Gereja,
seperti Origenes, misalnya.14
Dari
adanya penjelasan di atas, maka bisa kita simpulkan, bahwa keyakinan umat
Kristiani yang meyakini bahwa penulis Injil Markus itu adalah muridnya Yesus
dan saksi matanya Yesus, hal tersebut sangatlah tidak mendasar. Justru informasi
yang kita peroleh dari sumber-sumber Kristen di atas, penulis Injil Markus
ternyata mendapatkan sumber tulisannya dari Petrus.15 Jadi suatu hal yang absurd, jika Markus yang menjadi
pengarang injil Markus ini diyakini sebagai muridnya Yesus dan sekaligus
sebagai saksi matanya Yesus. Karena jika Markus adalah muridnya Yesus dan juga
saksi matanya Yesus, tentunya ia tidak akan menjadikan Petrus sebagai sumber
tulisannya.
Kapan Kitab Injil Markus
Ditulis?
Adanya
nama Yohanes Markus yang diyakini oleh umat Kristen sebagai pengarang Injil
Markus, tidaklah memiliki acuan yang pasti di dalam kitab Injil Markus. Bahkan,
mengenai siapakah nama ayahnya pun tidak pernah bisa kita dapatkan di dalam Alkitab.16 Tidak hanya itu, mengenai
kapan Injil Markus ini ditulis pun sama-sama memiliki ketidakpastian di
kalangan para sarjana Kristen. Menurut Samuel Benyamin Hakh, misalnya, Kitab
Injil Markus ini ditulis pada tahun 67-70 M.17
Sedangkan menurut Willi Marxsen, justru Injil Markus ini ditulis antara tahun
67-69 M.18 Sedangkan pendapat lain
ada yang menyatakan, bahwa Injil ini ditulis antara 60 M dan 70 M.19
Kesimpulan
Dari
adanya pemaparan di atas, kita bisa menyimpulkan, bahwa kepengarangan Injil
Markus tidaklah ditulis oleh salah seorang muridnya Yesus, melainkan oleh orang
lain, yaitu teman sepekerja dan penerjemah Petrus. Bahkan jika penulis Injil
ini dikaitkan dengan nama Yohanes Markus, sebagaimana keyakinan Kristen selama
ini, tentunya hal tersebut tidaklah memiliki dasar sama sekali, disamping hanya
sekedar opini belaka. Karena menurut John Drane, “Yohanes Markus yang kita jumpai dalam Perjanjian Baru adalah orang
biasa, dan tidak mungkin dikaitkan dengan penulisan sebuah kitab Injil, kecuali
ada alasan kuat yang mendukung dugaan itu.”20
Seharusnya,
umat Kristen untuk bisa mengakui secara jujur, bahwa pengarang Injil Markus itu
adalah seorang anonim. Terlebih, tidak adanya data eksternal yang bisa
diandalkan dalam membuktikan klaimnya mereka, selain hanya dari data internal
(Bible) saja. Oleh karena itu, ketika penulisnya saja anonim, maka jangan harap
untuk bisa memastikan kapan kitab Injil Markus ini ditulis.
Sumber:
1.
Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (ed.), Tafsir Alkitab Perjanjian
Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 2022), hal. 80
2.
Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison (ed.), The Wycliffe Bible
Commentary: Tafsiran Alkitab Wycliffe Vol. 3, (Malang: Gandum Mas, 2013), hal.
173
3.
D.A. Carson, dkk., Tafsiran Alkitab Abad Ke-21, (Jakarta: Yayasan Komunikasi
Bina Kasih, 2017), hal. 102
4.
John Drane, Memahami Perjanjian Baru: Pengantar Historis-Teologis, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2016), hal. 208
5.
Merrill C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 2017), hal. 197
6.
Pdt. Dr. Benyamin Samuel Hakh, Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar dan Pokok-Pokok
Teologisnya, (Bandung: Bina Media Informasi: 2010), hal. 269
7.
Merrill C. Tenney, op.cit., hal. 199
8.
Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis Terhadap
Masalah-Masalahnya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), hal. 171-172
9.
Dr. C. Groenen OFM, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius,
2021), hal. 103
10.
Bart D. Ehrman, Misquoting Jesus: Kesalahan Penyalinan Dalam Kitab Suci
Perjanjian Baru, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), hal. 29
11.
https://alkitab.sabda.org/verse.php?book=kis&chapter=4&verse=13
diakses pada Tanggal 14 Desember 2024
12.
Harold V. Lolowang, Menyibak Kontroversi Dugaan Ketidakaslian Alkitab, (Yogyakarta:
Andi, 2013), hal. 59
13.
Everett Ferguson, Backgrounds of Early Christianity, (Malang: Gandum Mas,
2017), hal 726
14.
Bart D. Ehrman, Misquoting Jesus: Kesalahan Penyalinan Dalam Perjanjian Baru
Kisah di Balik Siapa yang Mengubah Alkitab dan Apa Alasannya (Jakarta:
Gramedia, 2006), hal. 30
15.
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
Kasih, 2016), hal. 29
16.
Ibid., hlm. 33
17.
Pdt. Dr. Benyamin Samuel Hakh, op.cit., hal. 271
18.
Willi Marxsen, op.cit., hal. 173
19.
D.A. Carson, dkk., op.cit., hal. 102
20.
John Drane, op.cit., hal. 209
Tidak ada komentar:
Posting Komentar