2024/12/15

Kupas Tuntas Penulis Injil Markus

 

sejarah kepengarangan kitab injil markus
Oleh: Bang Data.


Menurut Kristen, pengarang Injil Markus adalah Markus, dimana ia adalah muridnya Yesus yang menjadi saksi matanya Yesus Kristus. Sama halnya dalam sejarah kepenulisan Injil Matius, ternyata Injil Markus pun mengalami carut-marut dalam menentukan siapakah penulis Injil Markus ini. Itu terjadi, karena banyak dari para ahli yang menolak, bahwa pengarang kitab Injil ini adalah muridnya Yesus.

Siapakah Penulis Injil Menurut Markus?                                         

 Menurut beberapa pendapat Bapa Gereja, seperti Papias; Irenaeus; dan Origenes, bahwa Injil menurut Markus merupakan hasil karya dari teman sekerja dan penerjemah Petrus. Bahkan di dalam Kisah Para Rasul (KPR) 12:12 dan 1 Petrus 5:13, nama penulis Injil Markus telah dihubungkan dengan Yohanes Markus.1 Selain mereka, ada pula pihak lain, seperti: seperti Clemens dari Aleksandria; Yerom dan juga terdapat di dalam Pengantar Anti-Marsiones dari abad kedua Masehi.2

Umat Kristen meyakini, bahwa Yohanes Markus adalah nama lain dari penulis Injil Markus. Namun hal tersebut, masih dinilai sebagai sebuah kemungkinan. Oleh karena itu, mereka memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyangsikan nama Yohanes Markus sebagai pengarang kitab Injil Markus. Dan perlu diketahui, bahwa penulis Injil Markus bukanlah seorang tokoh yang cukup terkenal, seperti halnya Paulus atau Petrus.3 Karena pada dasarnya, nama Markus merupakan nama umum yang telah banyak digunakan oleh orang lain. Menurut John Drane, bahwa namanya tidak bisa digunakan sebagai pegangan. Selanjutnya ia menambahkan, dalam mempertimbangkan persoalan ini, kita harus ingat tidak satu pun kitab Injil yang telah menyebutkan nama penulisnya.4 Senada dengan John Drane, seorang Guru Besar Alkitab dan Teologi, Merrill C. Tenney, semakin memperjelas tentang jati diri dari pengarang kitab Injil Markus ini, menurutnya, “Tidak banyak yang diketahui mengenai penulis Injil ini. Namanya tidak pernah disebut-sebut di sepanjang buku ini; dan dapat dikatakan sedikit sekali ayat-ayat yang memberikan petunjuk tentang minat dan kepribadiannya, apalagi jati dirinya.”5


Untuk mengetahui bukti Paulus telah menjiplak isi dari kitab lain, bisa anda cek disini.


Dari informasi di atas semakin terang-benderang, bahwa penulis Injil Markus ini pada dasarnya adalah anonim. Adanya informasi pertama yang menyatakan, bahwa Markus adalah pengarang kitab Injil Markus, itu semua berasal dari pendapatnya Papias. Mengenai Papias, Samuel Benyamin Hakh, menuturkan, “Pada tahun 130 M, Papias (70-146 M, seorang Uskup dari Hieropolis di Frigia, Asia Kecil) menuliskan sebuah karangan berjudul ‘Tafsiran Terhadap Perkataan-Perkataan Tuhan.’ Tulisan ini dikutip oleh Eusebius (260-340 M), seorang sejarawan dan Bishop dari Kaisarea. Dalam tulisan ini, diberitahukan bahwa Markus adalah penerjemah Petrus yang menuliskan karya ini secara cermat (Ecclesiastical History 3:39:15; 6:14:6). Jadi, Petrus dipandang sebagai orang yang berdiri di belakang tulisan Injil Markus ini. Ada juga salah satu tradisi yang dipelihara oleh Eusebius dari Clemens dari Aleksandria (150-220 M), yang menghubungkan Markus dan Petrus di Roma.”6

Carut-marutnya kepengarangan Injil Markus semakin terungkap. Karena para Bapa Gereja tersebut tidaklah sezaman dengan pengarang Injil Markus, apalagi dengan Yesus Kristus. Mengenai hal tersebut, Merrill C Tenny, menuturkan, “Eusebius juga mengutip Clemens dari Alexandria (sekitar tahun 180 M) yang antara lain mengatakan, bahwa para pendengar Petrus mendesak Markus untuk membuat catatan tentang ajaran yang disampaikan Petrus secara lisan, dan bahwa Petrus memerintahkan untuk membacakan Injil dalam jemaat-jemaat. Origenes, pengganti Clemens (sekitar tahun 225 M) konon mengatakan, bahwa Markus menuliskan Injilnya seperti yang dijelaskan Petrus kepadanya. Irenaeus menguatkan tradisi ini dengan mengatakan, bahwa ‘sepeninggal Petrus dan Paulus, Markus meninggalkan catatan tertulis bagi kita mengenai segala sesuatu yang diajarkan oleh Petrus.’ Kebenaran tradisi ini dapat dipertanyakan karena mereka bukan berasal langsung dari abad yang pertama, tetapi perlu diperhatikan bahwa mereka semua menyetujui kepenulisan Markus atas Injil Kedua, dan mereka semua menghubungkannya dengan ajaran Petrus.”7

Pandangan Merrill C. Tenney di atas telah diperkuat oleh Willi Marxsen, menurutnya, “Menurut fragmen (Papias) ini, Markus adalah teman dan penafsir dari Petrus yang ia temani dalam perjalanan-perjalanan penginjilannya. Markus katanya telah menuliskan ajaran-ajaran Petrus dari ingatannya setelah kematiannya, dan telah berusaha melakukannya dengan hati-hati, tanpa memberikan rangkaian peristiwa (historis) yang tepat.”8 Sedangkan untuk hubungan antara Markus dengan Petrus, C. Groenen, mengungkapkannya, sebagai berikut: “Menurut kesaksian pujangga Gereja, Papias (sekitar tahun 120 M), ada hubungan erat antara Markus, penyusun Injil, dan Petrus. Tetapi hal itu mungkin hanya berdasarkan 1 Petrus 5:13 melulu. Dan nilai 1 Petrus (bukan karangan Rasul Petrus) juga perlu dipertanyakan. Maka tidak pasti juga, bahwa penulis Markus benar-benar sama dengan Yohanes Markus yang tampil dalam Perjanjian Baru.”9

Dan mengenai Petrus, kenapa ia tidak menuliskan sendiri atas apa yang ia ketahui mengenai Yesus, ternyata ia adalah seorang yang buta huruf (yang tidak baca-tulis), dimana informasi tersebut bisa kita temukan di dalam Kisah Para Rasul 4:13.10 Karena di dalam ayat tersebut, terdapat kata agrammatos dengan nomer leksikonnya 62, dimana artinya itu adalah bodoh; tidak terpelajar. Dan jika umat Kristiani meyakini, bahwa KPR 4:13 adalah Firman Tuhan, tentunya mereka pun harus meyakini, bahwa Petrus dan Yohanes adalah orang yang buta huruf.11 Terlebih di sepanjang abad ke-2 M, orang yang melek huruf pada masa itu bisa dihitung dengan jari. Artinya, bahwa mayoritas masyarakat kala itu adalah orang-orang yang buta huruf.12 Dan mengenai hal tersebut, kita memiliki dukungan sejarahnya, yaitu dari Celsus, menurutnya, karena imannya, orang-orang Kristen telah mengorbankan akal budinya.13 Untuk menyerang agama Kristen, Celsus telah menulis sebuah buku yang berjudul Firman Yang Sebenarnya. Karena menurut Celsus, bahwa agama tersebut bodoh, berbahaya, dan harus dihapuskan dari muka bumi. Sayangnya, karya Celsus tersebut tidak bisa kita dapatkan, selain dari kutipan-kutipan yang bisa kita dapatkan dari tulisannya para Bapa Gereja, seperti Origenes, misalnya.14

Dari adanya penjelasan di atas, maka bisa kita simpulkan, bahwa keyakinan umat Kristiani yang meyakini bahwa penulis Injil Markus itu adalah muridnya Yesus dan saksi matanya Yesus, hal tersebut sangatlah tidak mendasar. Justru informasi yang kita peroleh dari sumber-sumber Kristen di atas, penulis Injil Markus ternyata mendapatkan sumber tulisannya dari Petrus.15 Jadi suatu hal yang absurd, jika Markus yang menjadi pengarang injil Markus ini diyakini sebagai muridnya Yesus dan sekaligus sebagai saksi matanya Yesus. Karena jika Markus adalah muridnya Yesus dan juga saksi matanya Yesus, tentunya ia tidak akan menjadikan Petrus sebagai sumber tulisannya.

                                   

Kapan Kitab Injil Markus Ditulis?

Adanya nama Yohanes Markus yang diyakini oleh umat Kristen sebagai pengarang Injil Markus, tidaklah memiliki acuan yang pasti di dalam kitab Injil Markus. Bahkan, mengenai siapakah nama ayahnya pun tidak pernah bisa kita dapatkan di dalam Alkitab.16 Tidak hanya itu, mengenai kapan Injil Markus ini ditulis pun sama-sama memiliki ketidakpastian di kalangan para sarjana Kristen. Menurut Samuel Benyamin Hakh, misalnya, Kitab Injil Markus ini ditulis pada tahun 67-70 M.17 Sedangkan menurut Willi Marxsen, justru Injil Markus ini ditulis antara tahun 67-69 M.18 Sedangkan pendapat lain ada yang menyatakan, bahwa Injil ini ditulis antara 60 M dan 70 M.19

 

Kesimpulan

Dari adanya pemaparan di atas, kita bisa menyimpulkan, bahwa kepengarangan Injil Markus tidaklah ditulis oleh salah seorang muridnya Yesus, melainkan oleh orang lain, yaitu teman sepekerja dan penerjemah Petrus. Bahkan jika penulis Injil ini dikaitkan dengan nama Yohanes Markus, sebagaimana keyakinan Kristen selama ini, tentunya hal tersebut tidaklah memiliki dasar sama sekali, disamping hanya sekedar opini belaka. Karena menurut John Drane, “Yohanes Markus yang kita jumpai dalam Perjanjian Baru adalah orang biasa, dan tidak mungkin dikaitkan dengan penulisan sebuah kitab Injil, kecuali ada alasan kuat yang mendukung dugaan itu.”20

Seharusnya, umat Kristen untuk bisa mengakui secara jujur, bahwa pengarang Injil Markus itu adalah seorang anonim. Terlebih, tidak adanya data eksternal yang bisa diandalkan dalam membuktikan klaimnya mereka, selain hanya dari data internal (Bible) saja. Oleh karena itu, ketika penulisnya saja anonim, maka jangan harap untuk bisa memastikan kapan kitab Injil Markus ini ditulis. 

 



 Sumber:

1. Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (ed.), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 2022), hal. 80

2. Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison (ed.), The Wycliffe Bible Commentary: Tafsiran Alkitab Wycliffe Vol. 3, (Malang: Gandum Mas, 2013), hal. 173

3. D.A. Carson, dkk., Tafsiran Alkitab Abad Ke-21, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2017), hal. 102

4. John Drane, Memahami Perjanjian Baru: Pengantar Historis-Teologis, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), hal. 208

5. Merrill C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 2017), hal. 197

6. Pdt. Dr. Benyamin Samuel Hakh, Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar dan Pokok-Pokok Teologisnya, (Bandung: Bina Media Informasi: 2010), hal. 269

7. Merrill C. Tenney, op.cit., hal. 199

8. Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis Terhadap Masalah-Masalahnya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), hal. 171-172

9. Dr. C. Groenen OFM, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 2021), hal. 103

10. Bart D. Ehrman, Misquoting Jesus: Kesalahan Penyalinan Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), hal. 29

11. https://alkitab.sabda.org/verse.php?book=kis&chapter=4&verse=13  diakses pada Tanggal 14 Desember 2024

12. Harold V. Lolowang, Menyibak Kontroversi Dugaan Ketidakaslian Alkitab, (Yogyakarta: Andi, 2013), hal. 59

13. Everett Ferguson, Backgrounds of Early Christianity, (Malang: Gandum Mas, 2017), hal 726

14. Bart D. Ehrman, Misquoting Jesus: Kesalahan Penyalinan Dalam Perjanjian Baru Kisah di Balik Siapa yang Mengubah Alkitab dan Apa Alasannya (Jakarta: Gramedia, 2006), hal. 30

15. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2016), hal. 29

16. Ibid., hlm. 33

17. Pdt. Dr. Benyamin Samuel Hakh, op.cit., hal. 271

18. Willi Marxsen, op.cit., hal. 173

19. D.A. Carson, dkk., op.cit., hal. 102

20. John Drane, op.cit., hal. 209


Tidak ada komentar:

Posting Komentar