
Dalam sejarah hidup Bapa-Bapa Gereja, nama Tertullianus selalu menjadi pembahasannya orang-orang Kristen, khususnya oleh Gereja Barat, yaitu Katolik Roma. Di artikel kali ini, kita akan menelusuri, apakah benar Tertullianus terpengaruh ajaran paganisme? Di samping itu, kita pun akan mencari tahu pula mengenai berbagai karyanya Tertullianus dan perannya bagi agama Kristen.
Tertullianus termasuk sebagai salah seorang
Bapa Gereja Latin. Disebut Latin, karena ia telah menulis karyanya di dalam
bahasa Latin. Nama lengkapnya Tertullianus adalah Quintus Septimius Florens
Tertullianus, yang dilahirkan sekitar tahun 160 Masehi di Kartago (kota Tunis
di zaman modern) dari keluarga kafir Romawi. Dia mendapatkan pendidikan dalam
ilmu retorika serta ilmu hukum. Beberapa waktu sebelum tahun 197 Masehi, ia telah
menjadi seorang Kristen. Sepanjang hidupnya, ia menulis secara luas mengenai
iman Kristen. Mula-mula dia menyokong aliran utama, yaitu Gereja Katolik, tetapi
menjelang tahun 207 Masehi, ia menjadi kecewa dengan pimpinan gereja lalu dan
mulai memihak Montanisme.
Montanisme atau “Nubuat Baru” sebagaimana
aliran ini disebut oleh para penganutnya, timbul sekitar tahun 170 Masehi
ketika Montanus beserta dua wanita mulai bernubuat di Frigia (Turki di zaman
modern). Mereka mengajar bahwa dunia segera akan kiamat dan dalam menyongsong
kejadian itu, mereka menyerukan agar hidup: tidak lagi mengadakan pernikahan,
berpuasa lebih lama dan tidak menghindari mati menjadi martir (berlawanan
dengan Matius 10:23). Pada awalnya, para pemimpin Gereja Katolik kebingungan
dalam menghadapi gerakan baru ini. Irenaeus menganjurkan agar Gereja Roma tidak
mengutuknya tanpa pertimbangan-pertimbangan yang seperlunya. Tetapi lambat-laun
terjadi keretakan dan ajaran sesat Frigia, sebagaimana ia disebut kemudian,
ditolak. Dan Tertulllianus meninggal sesudah tahun 220 Masehi.
Tertullianus adalah seorang Bapa Teologi
Latin. Bersama dengan Origenes, ia merupakan penulis Kristen terbesar abad ke-2
dan ke-3 Masehi. Tertullianus selalu menulis sebagai seorang advokat atau
pengacara, ia membela posisinya dan menyerang para saingannya. Ia pernah
digambarkan sebagai seorang apologet yang tidak pernah minta maaf. Dia menulis
lebih dari 30 karya yang tergolong dalam tiga golongan utama, yaitu:
1. Tulisan-tulisan bersifat
Apologi (pembelaan)
Yang terkenal di antaranya hanya diberi judul
Apologia. Tertullianus melanjutkan pekerjaan para apologet abad ke-2 Masehi,
seperti Yustinus, tetapi ia lebih gemilang. Ia berdebat dengan segala keahlian
hukumnya melawan praktek tidak adil yang menghukum mati orang-orang beriman,
hanya karena mereka Kristen.
2. Karya-karya Dogmatis Melawan
Ajaran Sesat.
Bersama
Irenaeus, Tertullianus adalah lawan paling tangguh terhadap aliran Gnostisisme.
Berbagai uraian ditulisnya melawan aliran ini, yang paling terkenal adalah De Praescriptione Haereticorum (Bantahan
Terhadap Orang-Orang Sesat). Dia menggunakan alasan yang sama seperti Irenaeus,
misalnya, dalam penolakannya bahwa penganut para penganut ajaran sesat
mempunyai hak untuk menggunakan Alkitab. Namun alasan ini tidak dapat
mencegahnya melontarkan kritik tajam terhadap Gereja Katolik di kemudian hari.
Karya Tertullianus yang terpanjang adalah kelima bukunya, Adversus Marcionem (Melawan Marcion).
Tertullianus
sangat mengkritik filsafat Yunani yang dianggapnya sumber ajaran sesat. Dia
menekankan sifat paradoksal dari iman dan kontras antara agama Kristen dan
filsafat. Di sini yang dititikberatkan sangat berlainan dengan Yustinus dan
para apologet terdahulu. Dia dapat mendasarkan diri pada unsur-unsur filsafat
Yunani yang sesuai dengan agama Kristen, sama seperti yang dilakukan apologet
lain. Utangnya kepada filsafat, khususnya ajaran Stoa, lebih besar daripada
yang diperkirakannya. Adapun salah satu pernyataan yang terkenalnya, yaitu
“Anak Tuhan telah disalib. Aku tidak malu karena tindakan itu memalukan. Anak
Tuhan mati. Hal itu dapat dipercaya karena tidak masuk akal. Dia dikuburkan dan
bangkit kembali. Ini pasti karena tidak mungkin” (De Carne Christi/Daging Kristus, 5).
Tertullianus juga menulis melawan
Monarkianisme. Pengikut aliran ini menitikberatkan monarki atau pemerintahan
tunggal dari Tuhan, mereka adalah monoteis keras. Mereka memperdaya doktrin
Ketritunggalan dengan mengemukakan pandangan yang cerdik, bahwa Sang Bapa
adalah Anak adalah Roh Kudus, sama seperti saya sebagai ayah yang juga suami
dan penulis. Bapa, Anak, Roh Kudus adalah tiga nama yang berlainan untuk tokoh
yang sama, yang memainkan tiga peranan yang berlainan, bukan tidak nama untuk
tiga tokoh yang berbeda. Tertullianus menjawab mereka dalam suatu karya yang
penting berjudul: Adversus Praxean
(Melawan Praxean). Praxeas adalah seorang pengikut Monarkhianisme yang tidak
dikenal, yang melawan Montanisme. Seperti yang dikatakan Tertullianus, “Praxeas
berhasil menyelesaikan dua pekerjaan setan di Roma: dia menghalau nubuat dan
memasukkan kefasikan. Dia mengusir Paraklet (dengan menolak nubuat-nubuat
Montanisme), dan menyalibkan Tuhan Bapa (dengan mengatakan, bahwa Anak Tuhan
adalah Tuhan Bapa).” Menjawab Praxeas, Tertullianus mengatakan, bahwa Tuhan
adalah satu zat atau hakikat dalam tiga pribadi. Dia yang menciptakan
istilah-istilah yang nantinya dipergunakan dalam rumusan-rumusan mengenai
doktrin Ketritunggalan dan inkarnasi.
3. Karya-karya Praktis
Banyak tulisan Tertullianus mengenai etika
praktis, khususnya yang berhubungan dengan disiplin gereja. Tulisan-tulisan ini
terbagi jadi dua golongan, yaitu karya Katolik yang lebih awal dan karya
Montanis yang baru kemudian. Namun ada kesinambungan yang hakiki antara kedua
fase. Watak keras Tertullianus, sikap moralis yang kaku terpancar dari seluruh
karyanya. Dalam karyanya yang terdahulu, De
Paenitentia (Pertobatan), masih ada tempat untuk pertobatan kedua bagi
orang-orang yang melakukan dosa besar setelah mereka dibaptis. Tetapi dalam
karya Montanismenya, De Pudicitia
(Kesopanan), dia lebih tegas, berlawanan dengan yang baru diucapkan oleh Uskup
Kartago. Bagi Tertullianus disiplin lebih diutamakan daripada pengampunan.
Bahkan, baru-baru ini seorang penafsir telah menuduhnya bahwa, ditilik dari
segi teologi ia hampir-hampir seorang Yahudi.”
Sumber:
Tony Lane, Runtut Pijar: Tokoh
dan Pemikiran Kristen Dari Masa Ke Masa, terj. Conny Item-Corputy, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2016), hal. 11-14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar