2024/12/12

Hutang Tertullianus Kepada Ajaran Stoa

 

perang tertullianus bagi agama kristen

Oleh: Bang Data.


 Dalam sejarah hidup Bapa-Bapa Gereja, nama Tertullianus selalu menjadi pembahasannya orang-orang Kristen, khususnya oleh Gereja Barat, yaitu Katolik Roma. Di artikel kali ini, kita akan menelusuri, apakah benar Tertullianus terpengaruh ajaran paganisme? Di samping itu, kita pun akan mencari tahu pula mengenai berbagai karyanya Tertullianus dan perannya bagi agama Kristen.

   Tertullianus termasuk sebagai salah seorang Bapa Gereja Latin. Disebut Latin, karena ia telah menulis karyanya di dalam bahasa Latin. Nama lengkapnya Tertullianus adalah Quintus Septimius Florens Tertullianus, yang dilahirkan sekitar tahun 160 Masehi di Kartago (kota Tunis di zaman modern) dari keluarga kafir Romawi. Dia mendapatkan pendidikan dalam ilmu retorika serta ilmu hukum. Beberapa waktu sebelum tahun 197 Masehi, ia telah menjadi seorang Kristen. Sepanjang hidupnya, ia menulis secara luas mengenai iman Kristen. Mula-mula dia menyokong aliran utama, yaitu Gereja Katolik, tetapi menjelang tahun 207 Masehi, ia menjadi kecewa dengan pimpinan gereja lalu dan mulai memihak Montanisme.

   Montanisme atau “Nubuat Baru” sebagaimana aliran ini disebut oleh para penganutnya, timbul sekitar tahun 170 Masehi ketika Montanus beserta dua wanita mulai bernubuat di Frigia (Turki di zaman modern). Mereka mengajar bahwa dunia segera akan kiamat dan dalam menyongsong kejadian itu, mereka menyerukan agar hidup: tidak lagi mengadakan pernikahan, berpuasa lebih lama dan tidak menghindari mati menjadi martir (berlawanan dengan Matius 10:23). Pada awalnya, para pemimpin Gereja Katolik kebingungan dalam menghadapi gerakan baru ini. Irenaeus menganjurkan agar Gereja Roma tidak mengutuknya tanpa pertimbangan-pertimbangan yang seperlunya. Tetapi lambat-laun terjadi keretakan dan ajaran sesat Frigia, sebagaimana ia disebut kemudian, ditolak. Dan Tertulllianus meninggal sesudah tahun 220 Masehi.

   Tertullianus adalah seorang Bapa Teologi Latin. Bersama dengan Origenes, ia merupakan penulis Kristen terbesar abad ke-2 dan ke-3 Masehi. Tertullianus selalu menulis sebagai seorang advokat atau pengacara, ia membela posisinya dan menyerang para saingannya. Ia pernah digambarkan sebagai seorang apologet yang tidak pernah minta maaf. Dia menulis lebih dari 30 karya yang tergolong dalam tiga golongan utama, yaitu:

                

1. Tulisan-tulisan bersifat Apologi (pembelaan)

   Yang terkenal di antaranya hanya diberi judul Apologia. Tertullianus melanjutkan pekerjaan para apologet abad ke-2 Masehi, seperti Yustinus, tetapi ia lebih gemilang. Ia berdebat dengan segala keahlian hukumnya melawan praktek tidak adil yang menghukum mati orang-orang beriman, hanya karena mereka Kristen.

 

2. Karya-karya Dogmatis Melawan Ajaran Sesat.

Bersama Irenaeus, Tertullianus adalah lawan paling tangguh terhadap aliran Gnostisisme. Berbagai uraian ditulisnya melawan aliran ini, yang paling terkenal adalah De Praescriptione Haereticorum (Bantahan Terhadap Orang-Orang Sesat). Dia menggunakan alasan yang sama seperti Irenaeus, misalnya, dalam penolakannya bahwa penganut para penganut ajaran sesat mempunyai hak untuk menggunakan Alkitab. Namun alasan ini tidak dapat mencegahnya melontarkan kritik tajam terhadap Gereja Katolik di kemudian hari. Karya Tertullianus yang terpanjang adalah kelima bukunya, Adversus Marcionem (Melawan Marcion).

Tertullianus sangat mengkritik filsafat Yunani yang dianggapnya sumber ajaran sesat. Dia menekankan sifat paradoksal dari iman dan kontras antara agama Kristen dan filsafat. Di sini yang dititikberatkan sangat berlainan dengan Yustinus dan para apologet terdahulu. Dia dapat mendasarkan diri pada unsur-unsur filsafat Yunani yang sesuai dengan agama Kristen, sama seperti yang dilakukan apologet lain. Utangnya kepada filsafat, khususnya ajaran Stoa, lebih besar daripada yang diperkirakannya. Adapun salah satu pernyataan yang terkenalnya, yaitu “Anak Tuhan telah disalib. Aku tidak malu karena tindakan itu memalukan. Anak Tuhan mati. Hal itu dapat dipercaya karena tidak masuk akal. Dia dikuburkan dan bangkit kembali. Ini pasti karena tidak mungkin” (De Carne Christi/Daging Kristus, 5).

   Tertullianus juga menulis melawan Monarkianisme. Pengikut aliran ini menitikberatkan monarki atau pemerintahan tunggal dari Tuhan, mereka adalah monoteis keras. Mereka memperdaya doktrin Ketritunggalan dengan mengemukakan pandangan yang cerdik, bahwa Sang Bapa adalah Anak adalah Roh Kudus, sama seperti saya sebagai ayah yang juga suami dan penulis. Bapa, Anak, Roh Kudus adalah tiga nama yang berlainan untuk tokoh yang sama, yang memainkan tiga peranan yang berlainan, bukan tidak nama untuk tiga tokoh yang berbeda. Tertullianus menjawab mereka dalam suatu karya yang penting berjudul: Adversus Praxean (Melawan Praxean). Praxeas adalah seorang pengikut Monarkhianisme yang tidak dikenal, yang melawan Montanisme. Seperti yang dikatakan Tertullianus, “Praxeas berhasil menyelesaikan dua pekerjaan setan di Roma: dia menghalau nubuat dan memasukkan kefasikan. Dia mengusir Paraklet (dengan menolak nubuat-nubuat Montanisme), dan menyalibkan Tuhan Bapa (dengan mengatakan, bahwa Anak Tuhan adalah Tuhan Bapa).” Menjawab Praxeas, Tertullianus mengatakan, bahwa Tuhan adalah satu zat atau hakikat dalam tiga pribadi. Dia yang menciptakan istilah-istilah yang nantinya dipergunakan dalam rumusan-rumusan mengenai doktrin Ketritunggalan dan inkarnasi.

 

3. Karya-karya Praktis

   Banyak tulisan Tertullianus mengenai etika praktis, khususnya yang berhubungan dengan disiplin gereja. Tulisan-tulisan ini terbagi jadi dua golongan, yaitu karya Katolik yang lebih awal dan karya Montanis yang baru kemudian. Namun ada kesinambungan yang hakiki antara kedua fase. Watak keras Tertullianus, sikap moralis yang kaku terpancar dari seluruh karyanya. Dalam karyanya yang terdahulu, De Paenitentia (Pertobatan), masih ada tempat untuk pertobatan kedua bagi orang-orang yang melakukan dosa besar setelah mereka dibaptis. Tetapi dalam karya Montanismenya, De Pudicitia (Kesopanan), dia lebih tegas, berlawanan dengan yang baru diucapkan oleh Uskup Kartago. Bagi Tertullianus disiplin lebih diutamakan daripada pengampunan. Bahkan, baru-baru ini seorang penafsir telah menuduhnya bahwa, ditilik dari segi teologi ia hampir-hampir seorang Yahudi.”

 



Sumber:

Tony Lane, Runtut Pijar: Tokoh dan Pemikiran Kristen Dari Masa Ke Masa, terj. Conny Item-Corputy, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), hal. 11-14


Tidak ada komentar:

Posting Komentar