
Ada tudingan dari segelintir orang, bahwa umat Islam penyembah Dewa Bulan (pagan). Menurut mereka, Muslim menyembah/mengkultuskan Dewa Bulan dikarenakan telah menggunakan simbol bulan sabit yang ada di atas kubah Masjid. Lalu seperti apakah sejarah penggunaan simbol bulan sabit, khususnya pada mitologi Mesopotamia, Mesir Kuno, Yunani dan Romawi Kuno? Dan mengapa, hingga saat ini Kristen Ortodoks dan juga Gereja Katolik Roma menggunakan simbol Bulan Sabit tersebut?
Simbol Bulan Sabit Di Zaman Pra-Islam
Penggunaan simbol bulan sabit yang
paling awal yaitu di Mesopotamia kuno, di mana bulan sabit melambangkan dewa
bulan, yaitu Sin (yang dikenal sebagai Nanna). Lambang Bulan sabit dianggap
sebagai dewa yang kuat, yang melambangkan tentang siklus bulan dan pengaruhnya
terhadap waktu dan pertanian.1 Adanya
pengkultusan terhadap dewa bulan tidak saja terjadi di Mesopotamia kuno, melainkan
terjadi pula di Mesir kuno yang menganggap Isis sebagai Dewi Bulan. Dalam dunia
Mesir kuno, Isis telah diyakini sebagai Ibu yang agung, dewi penyembuhan dan
ilmu sihir.2 Isis sudah menjadi Dewi
Bulan selama ribuan tahun. Dan orang pertama yang menghubungkan Isis dengan
bulan adalah Manetho, dimana ia sendiri sebagai seorang pendeta Mesir yang
hidup sekitar abad ke-3 SM.3
Ada beberapa kuil di Aleksandria (Mesir)
yang didedikasikan untuk Isis, hingga akhirnya kultus mengenai Isis pun
menyebar ke seluruh Kekaisaran Romawi. Bahkan, gambar-gambar Isis yang tengah
menyusui Horus pun telah mempengaruhi para seniman Kristen awal dalam
menggambarkan Bunda Maria dengan seorang bayi yang bernama Yesus Kristus.4
Untuk mengetahui tentang adanya tudingan & sanggahannya mengenai Nabi Muhammad mendapatkan wahyu dari setan, bisa ada baca artikelnya disini.
Adanya
pemujaan terhadap Dewi Bulan tidak saja terjadi pada kebudayaan Mesopotamia dan
Mesir kuno, melainkan merambah pula ke dalam kebudayaan Yunani Kuno. Meski
Yunani kuno meyakini Dewa Isis, namun dewi ini telah mengalami pergeseran
fungsi atau manfaatnya bagi masyarakat Yunani Kuno. Di mitologi Yunani kuno,
bulan sabit melambangkan keberuntungan dan perlindungan. Adapun yang paling
sering dikaitkan dengan Dewi Bulan di zaman Yunani kuno adalah Artemis, yang
diyakini sebagai dewi perburuan, bulan dan alam liar. Tidak saja Artemis,
Selene dan Hekate pun diyakini pula sebagai Dewi Bulan. Meski demiian, keduanya
diyakini memiliki perbedaan dengan Artemis. Bagi masyarakat Yunani kuno, Selene
diyakini bulan lunar dalam karya seni, cerita dan epos Yunani. Sedangkan
Hekate, dewi lain dalam mitologi Yunani Kuno, yang dikaitkan dengan bulan
sabit, yang dianggap sebagai simbol kuat dari sihir dan alam yang misterius di
malam hari.5
Dalam mitologi Romawi kuno,
masyarakatnya telah mengenal pula Dewi bulan sabit, yaitu Dewi Luna, yang
digambarkan sebagai wanita cantik dengan bulan sabit di dahinya. Dewi Luna setara
dengan Dewi Selene dalam mitologi Yunani kuno. Namun dalam mitologi Romawi
kuno, Dewi Luna sering dikaitkan dengan malam yang memiliki sihir, rahasia dan
penuh misteri. Tidak hanya itu, dalam alam surga, Dewi Luna diyakini sebagai
penyimbang bagi saudaranya, yaitu Sol (Dewa Matahari), dimana ia diyakini telah
memberikan keseimbangan secara halus antara siang dan malam.6
Simbol Bulan Sabit Di Kristen
Kristen telah terbukti pernah
menggunakan simbol bulat sabit sebagai lambang politik, militer, dan keagamaan
dari kekaisaran Bizantium.7 Bahkan pada
abad pertama SM, lambang bintang dan bulan sabit telah menghiasi koin-koin yang
ada di kota Byzantium. Para penulis kuno menjelaskan, bahwa simbol tersebut sebagai
penghormatan kepada dewi Hekate.8 Dan
hingga saaat ini, Kristen Ortodoks pun masih menggunakan simbol bulan sabit,
dimana hal tersebut bisa kita lihat pada kubah gerejanya mereka. Bagi mereka,
bahwa simbol tersebut melambangkan Bunda Allah.
Tidak hanya itu, bulan sabit diyakini sebagai simbol penting dari
kelahiran Yesus, karena mencerminkan bentuk palungan atau ayunan tempat bayi
Yesus yang ditempatkan setelah lahir di Betlehem. Inilah sebabnya mengapa cawan
untuk perjamuan kudus dan tempat pembaptisan, misalnya, berbentuk setengah
lingkaran.9
Tidak hanya Kristen
Ortodoks, pihak Gereja Katolik Roma pun telah menggunakan simbol tersebut
sebagai bagian dari peralatan liturgi dalam perayaan ekaristinya mereka, yaitu
Lunula. Lunula merupakan alat yang berbentuk bulan sabit, dimana bahannya
terbuat dari emas atau logam yang berlapiskan emas. Fungsinya, untuk menjepit
Hosti Kudus yang ditempatkan di dalam monstrans (wadah).10 Dalam Gereja Katolik Roma,
penggunaan bulan sabit tidak hanya digunakan pada Lunula. Melainkan diyakini
pula sebagai simbol favoritnya Maria yang memiliki gelar Dikandung Tanpa Noda.
Representasinya didasarkan pada bagian "Siapakah dia yang muncul seperti
fajar, cantik bagaikan bulan di bawah kakinya" (Wahyu 12:1). Dikombinasikan
dengan bulan sabit, Salib menggambarkan kemenangan Kristen di Lepanto yang
diperoleh melalui perantaraan Maria.11
Simbol Bulan Sabit Di Islam
Sejak zaman Nabi Muhammad dan para
sahabatnya, penggunaan simbol bulan sabit belum pernah digunakan. Adapun istilah
bulan sabit yang ada di dalam Al-Qur’an, hal itu merupakan sebuah petunjuk waktu,
yaitu penggunaan kalender bulan. Di samping itu, untuk menunjukan waktunya
untuk melakukan ibadah haji, sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur'an, yaitu Surat Al-Baqarah
ayat 189: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah:
"Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.”
Tidak hanya itu, bulan sabit pun
menunjukan pula sebagai waktu untuk hari rayanya umat Islam, misalnya Idul Adha,
sebagaimana Hadis ini: "Barangsiapa yang melihat bulan sabit Bulan Dzul
Hijjah kemudian ia hendak berkurban maka janganlah ia mengambil sebagian dari
rambutnya dan kukunya hingga ia menyembelihnya." (Hr. An-Nasai)12
Adapun penggunaan simbol bulan sabit,
hal itu baru pertama kali digunakan sekitar abad ke-15 M. Di masa Kekaisaran Ottoman, simbol bulan sabit
dan bintang untuk pertama kalinya digunakan. Ketika Turki menaklukkan
Konstantinopel (Istanbul) pada tahun 1453 M, mereka telah mengadopsi bendera
dan simbol kota yang sudah ada pada saat itu, yaitu Bizantium.13 Dari pihak jajaran Kekaisaran Ottoman hingga
masyarakatnya, tidak ada keyakinan dari mereka, bahwa penggunaan simbol bulan
sabit sebagai bentuk implementasinya mereka dalam melakukan penyembahan kepada
Allah.
Kesimpulan
Dari adanya bukti sejarah yang ada,
ternyata pihak pertama yang menggunakan simbol bulan sabit bukanlah Islam,
melainkan kaum paganisme. Bahkan umat Kristen telah turut serta menggunakan
simbol bulan sabit, dari dulu hingga saat ini. Jika umat Islam dianggap telah
menyembah Dewa Bulan dikarenakan adanya penggunaan simbol tersebut, lalu
bagaimana dengan umat Kristen Ortodoks dan juga Gereja Katolik Roma?! Apakah
mereka pun layak dianggap sebagai penyembah Dewa Bulan?!
Sumber:
1.https://amuletha.com/pages/crescent-symbol?srsltid=AfmBOoqY-W2bSfo3VM4hl6lrLxVEsgH0eixxB19ya37fPfPVAmH-HfEB
diakses pada Tanggal 6 Desember 2024.
2. https://egyptianmuseum.org/deities-isis
diakses pada Tanggal 6 Desember 2024.
3. https://isiopolis.com/2019/01/19/is-isis-a-moon-goddess-2/
diakses pada Tanggal 6 Desember 2024.
4. https://www.britannica.com/topic/Isis-Egyptian-goddess
diakses pada Tanggal 6 Desember 2024.
5. https://cityastronomy.com/crescent-moon-symbol-spiritual-meaning/
diakses pada Tanggal 6 Desember 2024.
6. https://historycooperative.org/luna-goddess/
diakses pada Tanggal 6 Desember 2024.
7. https://www.britannica.com/topic/Islam diakses pada Tanggal 6 Desember 2024.
8. https://steemit.com/history/@mand/history-of-the-star-and-crescent diakses pada Tanggal 6 Desember 2024.
9. https://www.russiabeyond.com/arts/337138-crescent-orthodox-christian-cross
diakses pada Tanggal 6 Desember 2024.
10. https://www.marinusyohanes.org/arsip/m.php?v=776
diakses pada Tanggal 6 Desember 2024.
11. https://www.catholicculture.org/culture/library/dictionary/index.cfm?id=32873
diakses pada Tanggal 6 Desember 2024.
12. https://hadits.tazkia.ac.id/hadits/5:4285
diakses pada Tanggal 7 Desember 2024
13. https://fiqh.islamonline.net/en/is-crescent-moon-symbol-of-islam/ diakses pada Tanggal 6 Desember 2024.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar