2025/01/09

Yustinus Martir Dan Paganisme

 

Pengaruh paganisme terhadap yustinus martir

Oleh: Bang Data.

Saat membahas tentang sejarah Gereja purba, nama Yustinus Martir tidak akan pernah terlepas dalam sejarah Bapa-bapa Gereja, khususnya bagi Gereja Katolik Roma dan Ortodoks. Namun, hal itu kurang berlaku bagi pandangan Gereja Protestan. Meskipun demikian, ternyata ia tidak bisa terlepas secara total dari pengaruh ajaran paganisme. Lalu seperti apakah biografinya Yustinus Martir? Dan bagaimana perjalanannya sebelum mengenal agama Kristen? Di artikel kali ini akan kami ulas.

Yustinus lahir dalam keluarga Yunani di Palestina pada awal abad ke-2 M. Ia mencari kebenaran dalam filsafat Yunani. Mula-mula ia bergabung dengan seorang filsuf Stoa. Tetapi setelah beberapa lama ia kecewa, karena pengetahuannya mengenai Allah tidak bertambah; lagi pula, hal ini tidak dianggap perlu oleh sang filsuf. Kemudian, ia mengikuti seorang filsuf aliran Aristoteles yang dikiranya cerdas. Setelah beberapa hari, filsuf ini menagih upahnya dari Yustinus sehigga ia menganggapnya sama sekali bukan seorang filsuf dan meninggalkannya. Kemudian ia mencoba menjadi pengikut Pythagoras, namun Pythagoras menginginkannya belajar musik, astronomi, geometri dulu sebelum datang belajar filsafat kepadanya. Yustinus tidak sabar lagi, lalu pergi kepada seorang pengikut Platonisme yang terkenal. Ia mencatat kemajuan dari hari ke hari. Ia bangga, lalu menilai kemajuannya terlalu tinggi dan mengharapkan langsung bertemu dengan Allah.

Pada waktu itu, ia berjumpa dengan seorang tua dekat laut. Orang tua itu memperkenalkannya dengan Perjanjian Lama (PL) dan dengan Kristus. Yustinus juga menyebutkan, bahwa ia sangat terkesan oleh sikap orang Kristen yang tidak takut menghadapi mati menjadi martir. Lalu ia menjadi Kristen, karena melihat bahwa hanya fillsafat inilah satu-satunya yang aman dan menguntungkan. Ia mengakhiri cerita pertobatannya dengan kata-kata, “demikianlah dan untuk alasan inilah aku menjadi filsuf”. Sejak itu Yustinus memakai jubah seorang filsuf. Ia bukan saja seorang Kristen yang mencari pendekatan antara agama Kristen dan filsafat Yunani; ia seorang Yunani yang tiba pada kesimpulan, bahwa agama Kristen adalah pemenuhan dari segala yang terbaik dalam filsafat, khususnya dalam ajaran Platonisme.

                                                 

Ada tiga buah karya Yustinus, yaitu:

1. Dialog dengan Trypho, catatan mengenai diskusi panjang dan ramah antara Yustinus dengan seorang Yahudi bernama Trypho, yang terjadi di Efesus.

2. I Apologia, suatu pembelaan iman Kristen yang ditujukan kepada Kaisar.

3. II Apologia, tambahan yang singkat pada karya tersebut di ata yang ditujukan kepada Senat Romawi.

 

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Yustinus mengajar di Roma. Pada tahun 160-an, ia beserta orang lain ditangkap karena mereka orang Kristen. Ia menolak untuk melepaskan iman Kristennya dan menyembah ilah-ilah (lainnya). Dalam I dan II Apologia, karya Yustinus berada pada taraf yang jauh lebih tinggi dari tulisan Bapa-bapa Rasuli. Ia juga sangat kristis terhadap filsafat Yunani mengenai berbagai hal. Namun, ia juga sekaligus menggambarkan Yesus Kristus bukan sebagai kegenapan dari segala yang terbaik dari pemikiran Yunani. Ini dicapainya dengan menggarap konsep Logos atau Firman, di dalamnya semua orang ikut berpartisipasi. Ia juga berpendapat, bahwa Plato dan filsuf-filsuf lain meminjam beberapa di antara ide mereka dari PL.

Ketika menjadi Kristen ia tidak melepaskan filsafat, melainkan malahan menjadi filsuf yang lebih baik, filsuf yang sejati. Katanya, hubungan antara para filsuf dengan Kristen adalah seperti hubungan antara yang tidak lengkap dengan yang lengkap, antara yang tidak sempurna dengan yang sempurna. Kadang-kadang Yustinus sangat kritis terhadap pemikiran Yunani, (menurutnya), “Akal menuntun mereka yang benar-benar saleh dan tekun dalam filsafat untuk hanya menghormati dan mencintai kebenaran; sehingga mereka menolak untuk mengikuti pandangan-pandangan tradisional yang tidak berguna”. Berkali-kali Yustinus menggabungkan diri dengan Sokrates, yang seperti orang Kristen dinyatakan ateis karena tidak mau menyembah berhala dan harus menderita karena keyakinannya itu. Akan tetapi Yustinus menyatakan, bahwa Kristus jauh lebih unggul dari Sokrates, (menurutnya), “Karena tak seorang percaya kepaada Sokrates sehingga bersedia mati karena ajarannya. Tetapi Kristus … bukan saja filsuf-filsuf dan cendekiawan yang percaya kepadanya. Tetapi juga perajin-perajin, dan orang-orang yang sama sekali tidak berpendidikan melihat kejayaan sebagai kekejian. Lagi pula, mereka tidak diburu rasa takut dan takut akan kematian”.

Pendekatan Yustinus, yang melihat kesinambungan antara masa lampau Yunaninya dan iman Kristennya, dilanjutkan oleh Klemens dan Origenes di Aleksandria. Kelak, Tertullianus di Kartago akan menentangnya dengan keras.



Dikutip dari karyanya Tony Lane, Runtut Pijar: Tokoh Dan Pemikiran Kristen Dari Masa Ke Masa, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), hal. 7-9.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar